Pengageng Kadipaten Mondropuro Pura Mangkunagaran Supriyanto Waluyo mengatakan, Beksan Tari Bedhaya Anglir merupakan tarian sakral yang tertinggi di Mangkunegaran. Konon tarian ini diciptakan oleh Mangkunegara I yang diilhami dari peperangan di Trowulan, Jawa Timur.
Tarian yang awalnya dilakukan oleh tiga orang penari itu dikabarkan sempat hilang selama hampir 1,5 abad hingga akhirnya direkonstruksi kembali pada masa Mangkunegara VII oleh KRAy Partini Partaningrat.
"Bedhaya Anglir Mendung adalah tarian sakral yang hanya dimiliki Mangkunegaran. Dipentaskan minimal setahun sekali pada saat ulang tahun naik tahta atau saat Jumenengan KGPAA Mangkunegara. Anglir Mendung juga tarian level paling tinggi di sini, artinya koreografi, olah tubuhnya juga rasanya harus seimbang. Durasinya 45 menit dibutuhkan fisik yang prima," kata dia.
Dijelaskan dia, jumlah penari dalam Bedhaya Anglir Mendung selalu harus ganjil. Selain itu, para penari pun harus lajang dan tidak boleh berkeluarga dengan batas usia maksimal 30 tahun. Sebab itu, proses regenerasinya pun dilakukan dengan baik untuk memastikan tarian fenomenal ini tetap lestari.
"Tarian ini mengisahkan perjuangan Pangeran Sambernyawa sebelum naik takhta menjadi Mangkunegara I. Perjuangannya itu diabadikan dalam sebuah seni tari agar selalu diingat oleh generasi penerus. Tarian ini tidak boleh keluar hanya ditarikan di sini (Mangkunegaran). Begitu juga Bedaya Ketawang itu hanya boleh ditarikan di Keraton Surakarta tidak boleh keluar, karena itu tarian untuk raja," papar dia.
Dalam beberapa waktu terakhir sejumlah penari tampak sibuk berlatih bersama sejumlah niaga yang menabuh tiga gamelan pusaka seperti Kiai Kayut Mesem, Kiai Udan Asih-Kiai Udan Arum dan Kyai Monggang. Ketiga gamelan ini merupakan tiga dari 15 koleksi gamelan pusaka di Pura Mangkunegaran yang istimewa lantaran suara yang jernih meski tanpa pengeras suara. "Gladi bersih terakhir Jumat malam (11/3) pukul 19.00," kata dia.
Pengageng Kemantren Langen Praja Pura Mangkunegaran Samsuri menambahkan, ketujuh penari Bedhaya Anglir Mendung ini merupakan para penari baru yang sudah dilatih secara intens sejak jauh-jauh hari. Dan intensitas latihan lebih tinggi dilakukan sejak Februari lalu bersama sejumlah niaga penabuh gamelan pusaka.
"Persiapan untuk jumenengan memang melatih penari baru karena memang harus remaja, dan kalau haid harus digantikan oleh penari lain karena aturannya memamg seperti itu. Penari dan pengrawit sudah latihan bersama dan malam jelang penobatan gladi resiknya,” ujarnya.
Ada tiga pangkon gamelan pusaka yang mengiringi tarian khusus untuk jumenengan ini. Seluruh penari merupakam abdi dalem. Kalau pengrawit melibatkan mahasiswa dari Akedemi Seni Mangkunegaran dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. (ves/bun/dam)
Beksan Tari Bedhaya Anglir
- Tarian sakral tertinggi di Mangkunegaran dan hanya dipentaskan setahun sekali saat ulang tahun kenaikan takhta
- Diciptakan oleh Mangkunegara I yang diilhami dari peperangan di Trowulan, Jawa Timur
- Sempat hilang selama hampir 1,5 abad hingga akhirnya direkonstruksi kembali pada masa Mangkunegara VII oleh KRAy Partini Partaningrat.
- Penari harus lajang dengan batas usia 30 tahun serta jumlahnya harus ganjil
- Tarian ini mengisahkan perjuangan Pangeran Sambernyawa melawan Belanda sebelum naik takhta menjadi Mangkunegara I
Gamelan Pusaka Mangkunegaran
- Tiga gemalan diberi nama Kiai Kayut Mesem, Kiai Udan Asih-Kiai Udan Arum dan Kyai Monggang
- Gamelan ini merupakan tiga dari 15 koleksi gamelan pusaka di Pura Mangkunegaran
- Memiliki kestimewaan suara yang jernih meski tanpa pengeras suara.