Ketua panitia penyelenggara tradisi bubur Samin Noor Cholish menjelaskan, bubur akan dibagikan tiap hari sepanjang Ramadan. Bahan dasar yang disiapkan, yakni 40 kg beras plus sayur, daging, dan bumbu rempah-rempah khas. Terutama minyak Samin khas Banjar, Kalimantan Selatan.
Selain itu, prokes ketat diberlakukan. Di antaranya, bubur dibagikan dalam dua tahap untuk mencegah kerumunan. Rinciannya, sekitar 300-an porsi untuk berbuka bersama di masjid. Sedangkan sisanya sekitar 1.000-an porsi, dibagikan kepada masyarakat atau jamaah yang berminat.
“Jamaah kami imbau antre yang tertib dan tetap prokes. Usahakan membawa wadah sendiri dari rumah. Nanti bisa diantrekan ke panitia untuk diisi bubur, untuk mencegah kerumunan. Kalau mau praktis lagi, bisa mengambil bubur yang telah disediakan,” terangnya, kemarin.
Bubur Samin dimasak kurang lebih 2 jam. Dimulai setelah salat Duhur hingga menjelang Asar. Kemudian dibagikan mulai pukul 16.00 hingga waktu berbuka puasa.
“Mulai hari ini (kemarin) karena Presiden Joko Widodo memberi kelonggaran boleh menggelar kegiatan selama Ramadan, maka kami membuka lagi tradisi bubur Samin,” sambung Ketua Takmir Masjid Darussalam H.M. Rosyidi Muhdhor.
Sementara itu, Ketua Umum JKP Yusuf Ahmad Alkatiri menambahkan, mulai tahun ini mendeklarasikan bubur Samin menjadi wisata religi. Mengingat animo masyarakat yang ingin menikmati bubur, tidak hanya datang dari Kota Solo saja. Namun juga berasal dari berbagai daerah.
“Banyak yang dari luar Kota Solo ikut antre mendapatkan bubur Samin. Termasuk yang dari kalangan non muslim. Kami sepakat menjadikan tradisi bubur Samin sebagai destinasi wisata religi,” ujarnya.
Yusuf mengaku, pernah ada seorang warga keturunan Tionghoa yang ikut mengantre bubur. Saat ditanya, orang tersebut mengaku bubur tersebut akan diberikan kepada ibunya yang sakit.
“Katanya buat obat. Memang bubur ini berbeda dengan bubur biasa. Kami memasak dengan rempah-rempah. Setelah memakan bubur, tubuh menjadi hangat. Mungkin itu yang bisa dijadikan obat penyebut orang sakit,” bebernya. (mg1/mg2/fer) Editor : Damianus Bram