Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pernikahan Adik Jokowi-Ketua MK: Adat Jawa Klasik, tapi Lebih Cair 

Damianus Bram • Jumat, 27 Mei 2022 | 14:00 WIB
Ketua MK Anwar Usman menunjukkan buku nikah usai resmi menjadi suami adik Jokowi, Idayati, Kamis (26/5). (ISTIMEWA)
Ketua MK Anwar Usman menunjukkan buku nikah usai resmi menjadi suami adik Jokowi, Idayati, Kamis (26/5). (ISTIMEWA)
SOLO – Adik Presiden Joko Widodo (Jokowi), Idayati resmi menjadi istri sah Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman setelah mengucapkan ijab kabul di Graha Saba Buana kemarin (26/5). Meski dihadiri banyak tamu VVIP, termasuk Presiden Joko Widodo yang berperan sebagai wali nikah, namun acara resepsi kemarin tampak cair. Kedua mempelai masing-masing sempat tampil menyanyikan sebuah lagu romantis.

Idayati tampak semringah ketika bisa berduet dengan penyanyi favoritnya Judika yang pada acara itu membawa lagu dari M.E Voice berjudul Inikah Cinta. Sementara Anwar Usman membawakan lagu romantis yang dipopulerkan Broery Marantika berjudul Pamit.

"Ini lagu istimewa untuk istri saya, untuk putri Solo yang esok pagi akan meninggalkan Solo," kata Anwar Usman.

Momen resepsi itu juga menjadi kado spesial bagi Idayati yang bertepatan dengan hari ulang tahunnya ke 56 tahun. Momen perayaan ulang tahun itu dilakukan dengan sederhana. Dimulai dari lagu kejutan bertema ulang tahun dari Judika disusul upaya potong kue ultah oleh Idayati dan Anwar Usman.

"Pernikahan ini memang sengaja dibarengkan dengan ulang tahun ibu. Memang disengaja seperti itu sebagai kado dari Pak Anwar untuk ibu (Idayati)," kata putra Idayati, Adityo Rimbo Galih Samudra saat ditemui usai resepsi.

Pria yang akrab disapa Tyo ini juga membocorkan rencana sang ibu yang akan ikut tinggal di Jakarta setelah melakukan perjalanan ke Bima, Nusa Tenggara Barat bersama Anwar Usman.

"Rencananya besok (Jumat ini) akan ke Bima dulu ke tempat asal Pak Anwar mungkin sekitar tiga hari. Setelah itu akan ikut tinggal di Jakarta," kata dia.

Hal berbeda diungkapkan kerabat dekat Anwar Usman, Muhtar. Dia mengatakan, rencana awal, setelah gelaran resepsi di Kota Solo kemarin, Idayati dan Anwar Usman akan bertolak ke Bima untuk mengadakan ngunduh mantu pada 28 Mei. Di tanah kelahiran Anwar Usman.

"Tapi karena Pak Anwar ada tugas di dalam dan luar negeri sekitar sebulan sampai dua bulan, jadi terpaksa acara di Bima ditunda. Rencananya kan tanggal 28. Tapi karena terlalu mepet, akhirnya ditunda dulu. Jadi acara besarnya setelah beliau pulang bertugas," ungkap ketua umum Ikatan Keluarga Wera Nusantara (IKRA) itu kemarin.

Muhtar mengatakan, sehari sebelum resepsi, Anwar mengundang tamu-tamu VVIP Bima untuk jamuan makan siang di rumah Muhtar di Solo. Hadir pula raja Bima dalam agenda ramah tamah itu. Dia sempat menawarkan Anwar untuk menyelenggarakan ngunduh mantu di Istana Kesultanan Bima.

"Tapi belum dipastikan tawaran itu diterima atau tidak. Pak Anwar masih mengusahakan acara besarnya diadakan di rumah saja. Ya ini masih dibicarakan kepastiannya. Karena masih lama juga. Inilah sebabnya, sekalian ditunda sebulan sampai dua bulan. Sembari mempertimbangkan kerepotan beliau juga," bebernya.

Rencananya, akan ada lebih dari 30 orang keluarga besar dari Solo yang datang ke acara pernikahan di Bima. Tapi jumlah itu bisa saja bertambah banyak karena waktunya masih lama.

Muhtar juga menegaskan tidak ada lagi prosesi adat Bima. Hanya jamuan makan dan ramah tamah dengan keluarga dan masyarakat di Bima yang tidak sempat ke Solo.

“Acara yang digelar nanti tidak jauh berbeda dengan acara di Solo.  Meski tidak ada acara pernikahan adat Bima tapi pakaian pengantin adat Bima tentu masih digunakan," ujar dia.

Di sisi lain, pernikahan Idayati-Anwar Usman kemarin terlihat cukup sederhana untuk kalangan pejabat negara. Meski demikian, tampilan suasana yang dibangun baik dalam akad maupum resepsi sangat kental dengan nuansa Jawa klasik lewat berbagai dekorasi.

"Kalau saya lihat, letak Jawa klasik yang dimaksud bukan di prosesi rangkaian adat pernikahannya, namun lebih pada suasana yang dibangun baik dalam dekorasinya hingga isntrumen-instrumen pelengkap di dalamnya," kata pengamat budaya Solo, BRM Bambang Irawan.

Pelestari budaya sekaligus sentana dalem Keraton Kasunanan Surakarta ini mengatakan, konsep penikahan adat Jawa klasik yang sesuai pakem dengan sejumlah tahapan tidak wajib diterapkan bagi calon pengantin yang sudah pernah menikah. Mulai dari seserahan, siraman, paes, dodol dawet, midodareni, panggih, hingga balangan suruh.

"Kalau Jawa klasik itu biasanya untuk anak gadis dengan sejumlah tahapan pernikahannya itu. Nah, ijab itu hanya di salah satu rangkaian saja. Kalau bukan pengantin gress (benar-benar baru pertama menikah, Red) tidak harus sesuai pakem, yang penting ijabnya," kata dia.

Selain simbol-simbol tradisi itu, kain batik yang dipakai oleh kedua pengantin dengan motif Sido Mulyo itu juga merupakan simbol harapan baik yang diyakini oleh masyarakat Jawa sampai hari ini.

"Batik yang dipakai manten Sido Mulyo itu doa yang harapannya bisa lebih baik dan lebih mulia di masa mendatang. Keseluruhan simbol-simbol ini merupakan doa dan permohonan pada Tuhan. Harapannya semoga mempelai nanti jadi keluarga yang pupus sampai akhir hanyat. Jodoh dunia akhirat," bebernya. (ves/aya/bun) Editor : Damianus Bram
#pernikahan adik jokowi #pernikahan idayati-anwar usman #Ketua MK Anwar Usman #Idayati-Anwar Usman #Idayati