Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

2 Putri Kandung PB XIII Ditolak Masuk Keraton Solo, Apa Benar Perintah Bapak?

Syahaamah Fikria • Selasa, 2 Agustus 2022 | 22:24 WIB
GRAy Devi Lelyana Dewi, putri kandung SISKS Pakoe Boewono (PB) XIII Hangabehi. (ANTONIUS C/RADAR SOLO)
GRAy Devi Lelyana Dewi, putri kandung SISKS Pakoe Boewono (PB) XIII Hangabehi. (ANTONIUS C/RADAR SOLO)


SOLO - Pertemuan antara Raja Keraton Kasunanan Surakarta SISKS Pakoe Boewono (PB) XIII Hangabehi dengan dua putri kandungnya kembali gagal. Penolakan pertemuan dengan GRAy Devi Lelyana Dewi dan GRAy Dewi Ratih Widyasari terjadi saat gelaran Kirab Pusaka Malam 1 Sura, Jumat (29/7) malam lalu.

Gusti Devi menuturkan, awalnya memang dia sengaja pulang ke Solo pada event tersebut. Sebab, sudah berulang kali dia mencoba bertemu dengan Sinuwun (PB XIII Hangabehi), tapi selalu gagal.

"Saya datang sekitar pukul 21.00, masuk lewat pintu samping tidak bisa. Kemudian lewat Kamandungan mencoba untuk masuk tapi nggak bisa juga," jelas Devi saat ditemui di Ndalem Kayonan, Selasa (2/8).

Kemudian, muncul nawala atau titah, di mana intinya Gusti Devi dan Gusti Ratih dilarang masuk ke dalam lingkungan Keraton Solo. Pembacaan nawala ini dilakukan sekitar pukul 23.00.

Mendengar hal tersebut, Devi mengaku tak bisa membendung air matanya. Sebab, nawala ini biasanya hanya diterbitkan bila ada darah biru yang melakukan kesalahan fatal.

Anehnya, kata Devi, saat dirinya dan Gusti Ratih akan meminta nawala tersebut, perwakilan keraton ini enggan memberikan. "Bahkan sekadar melihat pun tidak diperbolehkan. Mau saya foto tidak boleh. Apakah benar nawala ini keluar dari Sinuwun? Apakah ada tanda tangannya bapak atau tidak. Tapi tidak diperbolehkan untuk melihat," papar dia.

"Akhirnya saya memilih pergi. Sebab saya paham, kalau saya masih di situ otomatis acara tidak akan mulai. Saya sadar diri, karena ini prosesi sakral, akhirnya saya meninggalkan lokasi, baru acara dimulai," imbuh Gusti Devi.

Hingga kini, dia pun tak percaya kalau nawala tersebut keluar dari raja Keraton Solo itu. Sebab, dia paham dengan watak dan sifat dari PB XIII.

"Beliau itu sangat sayang sama anak-anaknya. Terakhir kali ketemu dua tahun lalu, memeluk sampai tidak dilepas. Nangis beliau, lalu berbisik ke saya 'ojo lunga, ojo lunga, ojo ninggalne aku' (jangan pergi, jangan pergi, jangan meninggalkan saya)," ungkapnya.

"Kalau larangan  itu muncul dari ucapan bapak langsung, saya terima dengan ikhlas, yang penting kewajiban saya sebagai anak berbakti pada orang tua sudah saya jalankan. Tapi ini saya sanksikan nawala tersebut," tambah Devi.

Untuk itu, Devi akan terus berupaya agar bisa bertemu dengan PB XIII. Apalagi sudah lama dia tidak bertemu dengan sang ayah. "Sederhana sih, bisa ketemu dengan bapak dan sungkem dan berkeluh kesah antara ayah dan anak. Tujuannya saya dan adik saya ingin silaturahmi. Apalagi kami sejak kecil tidak tinggal di Solo, tinggal di Jakarta," ungkapnya.

Gusti Devi pun tak mau jika dirinya dikait-kaitkan dengan konflik keraton. "Kita selama ini hidup mandiri di luar keraton, di luar Solo, tidak mengandalkan gelar atau nama. Jadi tidak ada hubungannya dengan konflik yang terjadi di keraton, ribet kalau ngurusi itu. Tidak mau ikut campur, tapi akhirnya malah terseret-seret," tegas dia. (atn/ria)


Editor : Syahaamah Fikria
#putri PB XIII ditolak masuk keraton #keraton surakarta #PB XIII #Keraton Solo #konflik keraton solo