Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Alat Tak Valid, Sopir BST dan Feeder Diminta Lakukan Pendataan Manual

Damianus Bram • Selasa, 1 November 2022 | 14:00 WIB
MASIH BERLAKU: Penumpang BST-feeder tetap bisa menikmati fasilitas gratis hingga akhir tahun karena ada subsidi dari pemkot. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
MASIH BERLAKU: Penumpang BST-feeder tetap bisa menikmati fasilitas gratis hingga akhir tahun karena ada subsidi dari pemkot. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
SOLO – Pemkot telah mengeluarkan subsidi Rp 3,3 miliar bagi penumpang Batik Solo Trans (BST)-feeder agar tetap gratis sampai akhir tahun ini. Agar subsidi ini tepat sasaran dan valid, maka driver transportasi umum ini diminta mendapat setiap penumpang.

Direktur PT Bangawan Solo Trans Tri Sadadmojo mengatakan, seluruh driver on the road mulai kemarin diwajibkan membuat catatan kecil untuk memetakan jenis penumpang sesuai kategori yang ditetapkan. Meski Pemkot Surakarta sudah menggelontorkan Rp 3,3 miliar untuk subsidi penumpang umum, pendataan itu penting dilakukan. Ini untuk membedakan kategori penumpang yang transportasi perkotaan itu.

"Sebetulnya di setiap armada ada alat yang bisa menghitung penumpang. Kelemahannya tidak bisa membedakan mana yang penumpang umum dan mana yang pelajar atau lansia. Jadi dengan ketentuan taping e-money bagi penumpang umum itu, makin sinkron dengan catatan dari pramudi (sopir) kami," kata dia di Kantor Dinas Pergubungan (Dishub) Kota Surakarta, Senin (31/10) lalu.

Hal serupa juga disampaikan Project Manajer PT Transportasi Global Mandiri Suyanta. Dia mengatakan, seluruh juru mudi feeder kini wajib membuat catatan kecil untuk pendataan penumpang. Pendataan ini dilakukan dalam dua bulan mendatang sejak 31 Oktober kemarin. Dengan demikian pembacaan otomatis dari mesin pendataan penumpang makin sinkron.

"Saya minta seluruh rekan pengemudi feeder mulai saat ini bikin catatan kecil. Kan mesinnya tidak bisa membedakan mana yang penumpang umum, maka penumpang pelajar, lansia, dan difabel. Pendataan ini penting karena berhubungan dengan pembayaran yang disubsidi pemkot," kata dia.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Surakarta Taufiq Muhammad membenarkan hal tersebut. Pencatatan kategori penumpang antara yang umum yang sudah berbayar dan disubsidi APBD. Kemudian penumpang pelajar, lansia, dan difabel yang masih digratiskan pemerintah pusat. Sebab, ini untuk menentukan load factor atau kepadatan penumpang BST-feeder. Pembedaan ini karena berkaitan dengan besaran biaya yang harus dibayarkan pemerintah seiring kebijakan subsidi APBD kepada penumpang umum hingga dua bulan kedepan.

"Jadi nanti tiap bulan kami bayar tagihannya dengan dana APBD ini. Makanya harus didata. Ya semoga saja anggaran Rp 3,3 miliar itu cukup sampai akhir tahun," jelas dia.

Sekadar informasi, hari pertama BST-feeder berbayar kemarin operasional berjalan lancar. Sejauh ini hanya ada satu penumpang BST yang dipaksa turun karena tak memiliki kartu e-money.

"Mau bagaimana lagi ketentuannya seperti itu. Sosialisasi sudah cukup lama dilakukan, karena itu sekarang lebih tegas," tutup Taufiq. (ves/bun/dam) Editor : Damianus Bram
#BST #batik solo trans #e-money #Subsidi Biaya Operasional BST #BST Gratis