"Kami perlu masukan dari berbagai aspek yang terkait dengan isu lingkungan hidup. Usulan-usulan itu akan direkap dan disinkronkan dengan rencana strategis yang sudah disusun untuk tahun 2024," ungkap Kepala DLH Surakarta Kristiana Hariyanti.
Tahun ini, DLH fokus pada permasalahan lingkungan, seperti kebersihan, pertamanan, pencemaran air, hingga meminimalkan potensi banjir.
"Antisipasi banjir, kami lebih ke penanganan sampahnya yang berpotensi menyumbat saluran air atau drainase perkotaan. Ini langkah penanganan jangka pendeknya. Sementara jangka panjangnya dilakukan dengan memperluas ruang terbuka hijau dan daerah resapan air. Kami koordinasi lintas sektor dengan stakeholder dan OPD terkait juga masyarakat," bebernya.
Sementara itu Pakar Lingkungan Hidup UNS Prof. Dr. Ir. Prabang C. EIA mengatakan, untuk antisipasi banjir di Solo penanganannya dengan memperluas daerah resapan air dengan berbagai cara.
"Kata kuncinya bukan kuantitas yang dilakukan, tapi lebih pada ketermanfaatannya atau nilai fungsinya. Solo yang memiliki sejarah panjang dalam kejadian banjir, harus dihitung betul dengan kondisi riil. Jangan menyusun program dengan tujuan hanya untuk menyalurkan anggaran. Harus dihitung betul dengan menimbang fakta dan masalah di lapangan. Misalnya harus bagaimana? Daerah resapannya seperti apa"? Termasuk drainasenya kondisinya seperti apa. Harus dihitung betul," bebernya. (ves/nik/dam) Editor : Damianus Bram