Kondisi bangunan bekas Rumah Sakit (RS) Kadipopo ini semakin memprihatinkan. Fasilitas kesehatan yang mulai berdiri sejak 1915 di era Paku Buwono (PB) X (Raja Keraton Kasunanan Surakarta saat itu, Red) kini dipenuhi semak belukar dan pepohonan yang tumbuh lebat di dalamnya. Area seluas 24.096 meter persegi dengan luas bangunan mencapai 5.931 meter persegi yang sempat dikenal sebagai RS Panti Rogo, RS Kadipolo, hingga Mess Arseto itu kini kondisinya kumuh. Bahkan semakin terkikis dari ingatan warga Kota Bengawan sekalipun sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) oleh Pemkot Surakarta pada 2012 lalu.
“Tumbuhan liarnya makin lebat. Apalagi kalau musim hujan. Kalau semakin lebat kan akar-akarnya merusak bangunan yang masih tersisa,” ujar Sukiyem, 70, seorang warga dari tiga keluarga yang masih menetap di eks RS Kadipolo itu.
Sukiyem dan tiga keluarga lainnya memang mendapat izin dari si pemilik aset untuk tinggal di eks bangunan rumah sakit itu sembari ikut membantu merawat dan mengawasi aset bernilai ratusan miliar itu. Mereka biasa bersih-bersih dan merawat puing-puing peninggalan era kolonial itu dengan alat seadanya.
“Saya sudah jualan di depan RS Kadipolo waktu masih beroperasi. Kemudian kalau tidak salah itu sekitar 1970 sudah tidak dipakai untuk berobat tapi hanya untuk sekolah dokter. Terakhir dipakai untuk mess Arseto (klub sepak bola) sampai 1998. Sebelum dipakai rumah sakit, ini merupakan fasilitas kesehatan milik keraton yang dibangun oleh PB X pada 1915. Namanya Panti Rogo,” ujar nenek yang merupakan abdi dalem Keraton Kasunanan itu.
Sukiyem dan tiga keluarga lainnya itu memanfaatkan bangunan bekas apotek di sisi barat pintu masuk eks RS Kadipolo di Jalan Dr Radjiman No. 315, Panularan, Laweyan itu. Bangunan bekas apotek itu disulap jadi tiga kamar untuk rumah tinggal, sementara bangunan bekas gudang obat yang ada di belakangnya digunakan untuk dapur bersama.
Selama 20 lebih dia menetap di lokasi itu, Sukiyem bisa hidup dengan layak karena suplai air bersih masih dapat diperoleh dari sumur pompa, sementara listriknya dia dapat dari pemasangan meteran listrik yang disambungkan dengan jaringan sekitar.
“Yang masih dipakai ya cuma bekas apotek dan gudang obat ini untuk kami tinggali. Dan satu lainnya lapangan sepak bola di selatan bangunan yang masih dipakai sampai sekarang. Kalau bangunan lainya sudah tidak bisa dipakai karena rusak dan hampir roboh,” kata dia.
Eks RS Kadipolo ini sudah ditetapkan sebagai BCB oleh Pemkot Surakarta sejak 2012. Jawa Pos Radar Solo sempat diperlihatkan plakat cagar budaya yang terpasang di bagian depan bangunan itu.
“Kalau ini dulu ruang tunggu pasien. Jadi setelah pasien datang, akan diarahkan untuk menunggu diperiksa di lokasi ini,” kata dia sambil menunjuk area lapang dengan dinding tebal dan langit-langit tinggi itu.
Dari ruang tunggu itu, Sukiyem mengajak koran ini menuju lokasi penurunan pasien dari lobi depan rumah sakit yang dipenuhi dengan pintu-pintu besar ukuran tiga meteran. Karena puing-puing bangunan tak bisa dilewati, koran ini akhirnya diajak masuk lewat samping area tandon air untuk menuju ke bagian muka rumah sakit.
Perjalanan dari area tengah ke bagian depan itu cukup menyulitkan karena tanah yang becek dan dipenuhi pecahan kaca. Belum lagi semak dan tumbuhan rambat yang ada di sekelilingnya.
“Dulu kalau pasien datang pasiennya langsung masuk dari sini, nanti ke lobi lalu menunggu di ruang tunggu sebelum ketemu dokter. Kalau di rumah sakit ini setahu saya ada bangsal umum, bangsal anak, ruang pasien VIP, dua kamar mayat dan beberapa tandon air. Ada juga taman tengah di bagian belakang (selatan bangunan). Lokasi itu yang dulu dipakai untuk mess pemain Arseto,” terang Sukiyem.
Kurangnya perawatan dengan kondisi lembab dan semak belukar yang lebat membuat bangunan bersejarah ini akhirnya terlupakan dari ingatan masyarakat. Bukannya nilai sejarah panjang yang diingat, namun justru kesan horor dan nuansa mistis. “Beberapa tahun terakhir banyak orang yang masuk ke sini untuk uji nyali,” beber dia. (ves/bun/dam) Editor : Damianus Bram