Satu persatu wayang kulit pusaka itu dikeluarkan dari kotak penyimpanan. Wayang-wayang itu kemudian ditata di sebuah alas dan dipilah-pilah sesuai urutan masing-masing. Beberapa saat kemudian wayang yang sudah dikeluarkan dari kotak itu pun dibersihkan dengan kuas dan lap kering sembari di cek apakah ada kerusakan dan sebagainya.
"Ini kegiatan rutin, karena sudah lama tidak diangin-anginkan sekalian dijamasi. Jamasannya tiap Kamis atau Jumat malam. Tapi khusus untuk Kanjeng Kiai Jimat dan Kanjeng Kiai Kadung dilakukan saat malam anggara kasih (Wuku Dukut dan Mandasia, Red) saja," terang adik Paku Buwono (PB) XIII Hangabenhi, GKR Wandansari Koes Moertiyah di sela kegiatan kemarin.
Wayang yang kondisinya masih baik kemudian di angin-anginkan dengan cara dipasang di atas kain yang dibentangkan dengan tali dan tatakan khusus untuk menaruh wayang. Di waktu bersamaan alas tempat menaruh wayang di dalam kotak dibersihkan dengan cara dilap dan dijemur untuk beberapa waktu.
"Keseluruhan prosesinya maksimal dua jam. Sebelum pukul 12 harus sudah rampung. Dari 18 kotak wayang baru empat kotak yang sudah dijamas," beber dia.
Dua jam berselang sejak 230 wayang itu dikeluarkan dari kotaknya, wayang kulit peninggalan PB IV itu dimasukkan lagi ketempatnya sebelum dikembalikan untuk disimpan di Gedong Lembusono. Kegiatan seperti ini akan menjadi agenda rutin yang dilakukan dalam rangka menjaga peninggalan leluhur. Mengingat hingga saat ini ada 18 kotak wayang pusaka dengan keseluruhan wayang yang diperkirakan mencapai seribuan lebih lembar wayang kulit.
"Yang ada kerusakan sudah dipisahkan dan kami catat untuk diperbaiki setelahnya," terang perempuan yang akrab disapa Gusti Moeng itu.
Abdi dalem Keraton Kasunanan Suluh membenarkan bahwa mengangin-anginkan wayang merupakan kegiatan rutin yang dilakukan agar koleksi wayang itu makin terawat. Meski demikian, sejauh ini kondisi wsyang kulit itu terbilang baik. "Perawatan hanya membersihkan debu saja. Kalau ada yang rusak ya diperbaiki," kata abdi dalen yang bertugas di Gedong Lembusono itu. (ves/bun/dam) Editor : Damianus Bram