"Dulu sempat diajak rapat (oleh Pemkot Surakarta) soal pemindahan ini, tapi sampai sekarang belum ada kepastian soal kami mau ditaruh dimana. Ini juga berhubungan dengan Kementerian Sosial, mengingat penempatan 2017 lalu itu karena ada kesepakatan antara Yayasan Lentera dengan Kemensos saat itu," terang Ketua Yayasan Lentera, Yunus Prasetyo.
Karena yang digunakan lahan milik pemkot, pihaknya tentu tidak akan menolak upaya pemindahan tersebut. "Kami tidak menolak untuk dipindah, hanya saja memindahkan orang ini kan tidak seperti memindahkan barang. Perlu adaptasi di lingkungan baru, dan masyarakat yang baru. Ini kan perlu waktu. Kalau sejauh ini kami sangat nyaman tinggal di area pemakaman ini. Kami tidak perlu bersinggungan dengan masyarakat, kami juga tidak mengeluarkan banyak energi untuk mengkondisikan lingkungan. Areanya juga luas, jauh dari jalan raya, dan banyak pepohonan dengan udara bersih yang cukup. Ini dari sisi kami (pengguna panti, Red)," paparnya.
Pihaknya berharap dimana pun area yang dipilih memiliki kemiripan-kemiripan situasi dengan lokasi yang lama. Mulai dari keamanan hingga kenyamanan untuk rumah tinggal anak-anak dengan HIV/AIDS.
"Paling tidak tetap harus di Solo karena yang utama itu akses dan layanan kesehatan karena hanya bisa di RSUD Dr. Moewardi. Kalau fasilitas lainnya itu nomor dua, yang pasti pemkot tahu lah idealnya panti untuk anak-anak ada area untuk bermain, berinteraksi, dan sebagainya," jelasnya.
Di luar itu semua, pihaknya memastikan memindahkan rumah singgah yang dihuni 40 anak dengan HIV/AIDS (27 anak diantaranya usia sekolah, Red) ke lokasi baru itu membutuhkan proses yang cukup panjang.
"Di area pemakaman ini kan kami tidak ada yang menolak karena tidak bersinggungan dengan masyarakat. Dulu kan kami ditolak itu karena dalam lingkungan masyarakat. Kalau di makam kan tidak ada yang menolak. Belum lagi soal sekolah, kalau pindah ke lokasi baru kan mindah 27 anak ke sekolah baru butuh proses untuk melakukan semua ini," ungkap Yunus.
Sekadar informasi, pemindahan Rumah Singgah Yayasan Lentera mencuat seiring bergulirnya rencana penataan kawasan TMP Kusuma Bhakti pada tahun ini dengan anggaran Rp 15 miliar yang berasal dari dana hibah Uni Emirat Arab (UEA). Penataan kawasan TMP itu disertai dengan perbaikan infrastruktur drainase, jalan lingkungan, dan lainnya termasuk dengan pembangunan taman parkir umum seluas 2.400 meter persegi.
"Sudah kami komunikasikan ke kemensos (soal pemindahan Rumah Singgah Yayasan Lentera). Ini masih nunggu arahan dari pusat soal pemindahannya. Jadi nanti lokasinya bisa tetap di lahan pemkot," tutur Kepala Dinas Sosial Kota Surakarta Agus Santoso. (ves/nik/dam)
Sepak Terjang Yayasan Lentera di Solo
- Berdiri 2012, puluhan kali berpindah lokasi dengan cara kontrak hunian dengan dana mandiri.
- Terpaksa berpindah dari Kedung Lumbu, Bumi, hingga Purwosari karena penolakan sebelum akhirnya menetap di TMP Kusuma Bhakti pada 2017.
- Beberapa kali pindah sekolah karena penolakan dari orang tua siswa.
- Kondisi terkini Rumah Singgah Yayasan Lentera dihuni 40 anak dengan HIV/AIDS, 27 anak diantaranya usia sekolah.