RADARSOLO.COM – Kepadatan lalu lintas di sejumlah ruas terdampak penutupan Simpang Joglo diprediksi bakal meningkat pada hari normal saat masyarakat beraktivitas dan siswa masuk sekolah. Lebih aman, maka sebaiknya pengguna jalan mengambil rute alternatif agar tidak terjebak dalam kemacetan.
Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surakarta Ari Wibowo mengatakan, sejak Simpang Joglo ditutup Sabtu malam (15/7) hingga Minggu kemarin, dampak pengalihan arus lalu lintas belum terlalu padat karena hari libur.
"Perkiraannya hari aktif besok (hari ini) akan lebih ramai. Khususnya pada jam-jam masuk kerja dan sekolah serta jam pulang kerja dan sekolah," terang dia.
Kendala di lapangan masih adanya sejumlah kendaraan pribadi yang masuk jalur penyekatan baik kendaraan roda empat maupun kendaraan roda dua. Namun untuk jenis kendaraan besar sampai kemarin belum ada kendaraan yang harus diputar arah karena menerabas jalur penyekatan.
"Kalau kendaraan berat sepertinya sudah tersosialisasi dengan baik untuk menggunakan jalan tol. Beberapa kendaraan yang terpaksa diputar balik biasanya kendaraan pribadi atau bus dan truk kecil," beber Ari Wibowo.
Lebih jauh soal ruas jalan yang berpotensi cukup padat pada hari aktif kerja, Ari memprediksi kepadatan lalu lintas akan terlihat di simpang empat Clolo dan sejumlah jalur terkait yang terhubung dengan Gondangrejo, Karanganyar. Kepadatan lain juga akan terlihat di simpang lima Komplang sebagai penyekatan terakhir di sisi barat Simpang Joglo.
"Kepadatan lain diprediksi juga akan terlihat di sekitar Viaduk Gilingan baik di Simpang Gilongan - Jalan S. Parman - Simpang Balapan maupun di Simpang Ngemplak - Jalan D.I. Pandjaitan - Simpang Banjarsari. Saat ini memang belum terlalu padat, jauh akan lebih padat saat hari aktif. Kami tempatkan petugas untuk mengurai kemacetan dan antisipasi kendaraan yang masuk jalur penyekatan," tegas Ari Wibowo.
Sementara itu, Hari Suranto, salah seorang pengemudi taksi online mengaku harus memutar cukup jauh untuk antar jemput penumpang di sekitar kawasan Simpang Joglo. Meski demikian, dia tidak merasa rugi atau tambah untung karena ongkos perjalanan disesuaikan dengan tarif dan jarak tempuh dari titik penjemputan ke titik penurunan.
Dia memilih menghindari menolak penumpang jika titik penjemputannya berada di sekitar lokasi Simpang Joglo.
"Kalau mengantar tidak masalah, tapi kalau biasanya dapat penumpang (jemput) daerah Nusukan dan sekitarnya saya pilih cancel karena jalannya macet. Kalau jemputnya macet beban (biaya bensin, Red) saya tanggung sendiri," terang dia.
Hal serupa diungkapkan pengemudi online lainnya, Tri Hananto. Pengemudi ojek online spesialis pengantar makanan ini pilih tidak mangkal di kawasan sekitar Joglo dan Nusukan agar tidak mendapat order pesan antar makanan yang membuat dirinya harus memutar jauh karena beban perjalanan memutar ditanggung diri sendiri.
"Kalau ada orderan daerah Joglo saya lepas. Kalau harus memutar tambah biaya bensin, padahal diaplikasi jaraknya belum berubah jadi mending nggak diambil sekalian orderannya," kata dia. (ves/bun/dam)
Editor : Damianus Bram