RADARSOLO.COM - Sosok etnis Tionghoa ternyata berada di balik dikenalnya pertunjukan wayang orang di Kota Solo. Sempat terdampak krisis di era Mangkunegaran V, akhirnya datang tokoh Tionghoa sebagai sponsor pementasan wayang orang di Solo.
Menurut tokoh Tionghoa Solo Sumartono Hadinoto, dari catatan sejarah, wayang orang di Kota Solo merupakan ciptaan Pura Mangkunegaran. Hingga suatu ketika, perkembangan wayang orang di sana merosot akibat Mangkunegaran mengalami defisit keuangan. Pementasan wayang orang tidak lagi dilakukan karena dianggap pemborosan
Melihat kondisi memprihatinkan tersebut, pengusaha keturunan Tionghoa Gan Kam memberanikan diri menjadi sponsor pementasan wayang orang di Kota Solo. Dia lalu berinovasi dengan membuat wayang orang lebih komersial pada 1895. Yakni dengan merekrut penari dan pemain wayang orang mantan abdi dalem Mangkunegaran.
"Kemudian dari situ, Gan Kam meminta izin kepada Mangkunegara V untuk memboyong pertunjukan ini ke luar istana. Dari situ muncul kelompok-kelompok wayang orang. Salah satunya Wayang Orang Sriwedari," ujarnya.
Dalam perkembangannya, Sumartono mengatakan, banyak keturunan Tionghoa yang menjadi pemain wayang orang. Namun sayang, tak terjadi regenerasi sehingga saat ini sudah tak lagi aktif.
"Dulu PMS (Perhimpunan Masyarakat Surakarta) semua pemain wayang orangnya anak pengusaha Tionghoa. Termasuk anak adik eyang saya juga," ungkapnya.
Bahkan PMS sering menjadi juara Wayang Orang Panggung Amatir (WOPA) dan Piala Ibu Tien Soeharto. Pialanya sekarang ada di kantor PMS. Terakhir pentas di Jakarta ketika Gus Dur menjabat presiden. Tapi karena tak ada regenerasi, sehingga kemudian vakum.
“Kita melihat budaya Jawa ini budaya yang tinggi. Selalu punya nilai lebih, sebagai generasi penerus bangsa, tidak mengenal budaya bukan bangsa yang besar. Dengan kita nguri-nguri budaya, melestarikan dan menjaga agar wayang orang ini bisa kita pertahankan," ujarnya
Lewat wayang orang, bisa memberikan pesan kehidupan, budaya, adat istiadat dan kebaikan. Ini dialami betul oleh Sumartono sejak kecil.
"Sejak kecil sering menonton pertunjukan wayang orang. Tidak hanya di GWO (Gedung Wayang Orang), namun juga di tingkat RT ketika tirakatan. Bahkan saya diceritakan soal alur ceritanya yang pakem, sampai sering baca buku-buku soal Ramayana dan Mahabharata sehingga ketika nonton tahu alurnya. Banyak pesan moral yang didapat," tuturnya
Ironisnya, saat ini ketika malam tirakatan peringatan 17 Agustus, yang disuguhkan justru kebudayaan modern seperti tari hip hop, organ tunggal dan lain sebagainya. Kondisi ini terbalik, di mana orang luar negeri justru belajar budaya ke Indonesia. Namun, bangsa sendiri malah melupakan.
“PMS dulu juga memiliki program pelestarian wayang orang. Seperti memperbaiki gedung Sriwedari. Sempat diwacanakan pengusaha Tionghoa di Solo untuk mengirimkan staf karyawannya melihat wayang orang, sehingga mereka tahu. Kemudian sebulan sekali kami ambilkan bintang tamu, nanti pengusahanya ikut nonton. Namun batal hingga sekarang karena ada kerusuhan 1998 itu," ujarnya. (atn/bun/ria)
Editor : Syahaamah Fikria