RADARSOLO.COM - Prehistoric Body Theater merupakan organisasi seni yang memadukan seni tari dan teater dengan berbasis pada ilmu paleontologi. Terbentuk pada 2017, organisasi ini dikelola oleh Dr. Ari Dharminalan Rudenko, seorang berkebangsaan Amerika Serikat.
Ari Rudenko kurang lebih sudah 12 tahun tinggal di Indonesia. Saat ini, Ari Rudenko bisa disebut sebagai seorang doktor, sutradara, koreografer, dan artistic director dalam organisasi Prehistoric Body Theater.
Organisasi ini memiliki konsep pertunjukan untuk memperkenalkan kehidupan prasejarah dan evolusi di muka bumi dengan menggunakan pendekatan ilmu paleontologi. Karya yang diangkat berbasis pada seni paleoart yang divisualisasikan dalam bentuk pertunjukan teater tari.
Ilmu paleontologi merupakan ilmu yang mempelajari kehidupan prasejarah yang mencakup studi fosil untuk menentukan evolusi suatu organisme dan interaksinya dengan organisme lain beserta lingkungannya. Paleontologi sendiri berkaitan dengan ilmu biologi dan geologi dan ilmu ini tidak mempelajari budaya makhluk modern.
Paleoart merujuk pada sebuah karya seni untuk menggambarkan kehidupan prasejarah berdasarkan bukti ilmiah yang telah ditemukan. Karya ini merupakan sebuah representasi sisa-sisa fosil yang dapat mengimajinasikan kehidupan dan perilaku hewan beserta ekosistemnya.
Karya paleoart memiliki dua unsur, yaitu paleo dan art. Paleo merujuk pada keakuratan ilmiah, sedangkan unsur art merujuk pada seni yang menjadi selera dan latar belakang terciptanya sebuah karya.
Secara umum, paleoart terdapat pada lukisan, patung, action figure, ataupun animasi-animasi dokumenter. Prehistoric Planet dan Walking with Dinosaurus merupakan salah satu contoh animasi dokumenter yang berhasil didokumentasikan oleh BBC.
Sejak saat ini, belum ada karya seni pertunjukan yang menggunakan sudut pandang paleoart. Kecintaan Ari Rudenko pada kehidupan prasejarah membuat ia berambisi untuk mengangkat cerita kehidupan prasejarah ke dalam panggung pertunjukan yang besar.
Pada 2015, Ari menulis tesis mengenai gagasan yang menjadi awal karya Ghosts of Hell Creek. Kisah dalam pertunjukan Ghosts of Hell Creek memiliki narasi epic selama 500 juta tahun lalu. Bercerita tentang asal-usul leluhur manusia dan sebab kepunahan massal dinosaurus.
Pertunjukan karya ini mengambil latar belakang di Hell Creek Formation, sebuah tempat yang memiliki ekosistem prasejarah dan terletak di Montana, Amerika Serikat.
Banyak fosil terkenal yang ditemukan di Montana, termasuk fosil dari masa sebelum hantaman Asteroid Chicxulub yang terjadi pada 66 juta tahun lalu. Peristiwa ini menyebabkan kepunahan massal hewan dinosaurus yang menjadi fokus utama karya dan narasi pada pertunjukan ini.
Pertunjukan Ghosts of Hell Creek dibagi menjadi 4 babak. Tiap babak memiliki karakter dan ekosistem yang berbeda. Karakter yang ditentukan adalah karakter hewan yang memiliki hubungan evolusioner.
Berangkat dari asal usul nenek moyang vertebrata, karakter awal yang dimunculkan pada babak pertama adalah haikouichthys, yaitu ikan. Babak kedua dimunculkan karakter nenek moyang dari segala mamalia dan reptil, yaitu protoclepsydrops yang memiliki bentuk seperti kadal.
Masuk pada kisah inti pada narasi pertunjukan Ghosts of Hell Creek dengan memunculkan karakter dinosaurus acheroraptor. Acheroraptor merupakan hewan yang menyerupai burung dan memiliki bulu dengan pigmen warna yang beragam, hewan ini mengalami kepunahan massal saat terjadinya hujan asteroid.
Pada babak terakhir dalam pertunjukan terdapat satu karakter yang disebut purgatorius. Purgatorius adalah hewan primata pertama menurut sains evolusi yang disebut leluhur manusia dan dapat bertahan hidup pada saat hujan meteor terjadi.
Proses penciptaan karya ini melewati tahapan yang panjang. Diawali melihat dokumenter tentang sains, mempelajari ilmu paleontologi dengan didampingi ilmuan sains, dan eksplorasi gerak.
“Karena teman-teman tidak punya latar belakang sains, kami banyak belajar dengan ilmuan yang didatangkan lewat Zoom untuk belajar paleontologi,” ujar Ari.
Eksplorasi gerak dilakukan dengan mengobservasi langsung tingkah dan perilaku beberapa hewan seperti ayam, biawak, musang, monyet, dan beberapa hewan lainnya.
Hewan yang dijadikan objek observasi dapat dikatakan memiliki beberapa celah kesamaan dengan karakter yang diangkat. Observasi dilakukan untuk menginterpretasikan karakter yang dibawakan dalam narasi karya Ghosts of Hell Creek.
Ghosts of Hell Creek terinspirasi dari gerak-gerak tradisi yang berbasis pada tari-tarian hewan seperti Tari Cendrawasih, Tari Merak, Tari Jatayu, Tari Anoman, dan tari hewan lainnya. Karya ini dibungkus dengan apik menggunakan konsep tari kontemporer.
Ada beberapa hal menarik dalam pertunjukan karya ini, antara lain dengan menghadirkan siluet dinosaurus t-rex. Kerangka t-rex yang digunakan merupakan replika dari fosil asli t-rex yang pernah ditemukan di Montana.
Selain itu, para penari hanya menggunakan celana fundoshi yang biasa digunakan oleh pegulat Jepang sumo. Para penari tidak memakai rias wajah dan tubuh penari dibaluri tanah liat dari kepala hingga ujung kaki tanpa terkecuali.
Pada bagian kepala dan tangan diberi prostetik yang terbuat dari bahan campuran latex. Kepala penari menggunakan prostetik dengan bentuk seperti jambul dan dikedua tangannya memakai prostetik berbentuk sayap.
Setting panggung pada pertunjukan karya ini dilengkapi dengan panggung portabel tambahan yang dikedua sisinya dapat dipasang tiang dan bisa digunakan untuk memanjat dengan leluasa. Ada pula buah apel yang dihadirkan sebagai properti untuk mendukung pertunjukan karya Ghosts of Hell Creek. (mg2/nik)
Editor : Niko auglandy