Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Filosofi Tari Jaran Kepang: Bentuk Perjuangan Pejuang Berkuda Zaman Dulu

Mannisa Elfira • Minggu, 24 November 2024 | 14:15 WIB

 

Tarian Jaran Kepang yang sempat dipertunjukkan di Pura Mangkunegaran, belum lama ini.
Tarian Jaran Kepang yang sempat dipertunjukkan di Pura Mangkunegaran, belum lama ini.

RADARSOLO.COM - Masyarakat di Pulau Jawa sudah tak asing lagi dengan tari Jaran Kepang. Ada banyak filosofi terkait tarian unik tersebut.

Tari Jaran Kepang adalah kesenian rakyat tradisional yang menggambarkan sekelompok prajurit gagah menunggangi kuda.  Properti 'kuda' atau jaran yang ditunggangi para penari biasanya terbuat dari anyaman bambu. Benda yang memiliki variasi warna tersebut akan dijepit di antara dua kaki sang penari.

Tarian tradisional ini mulai digalakkan di Kota Bengawan. Salah satu sanggar yang terus mementaskannya adalah Enggal Condong Turonggo Sakti. Mereka pernah tampil di sejumlah lokasi, termasuk di Pura Mangkunegaran Solo.

"Jaran Kepang itu merupakan bentuk pejuang yang berkuda zaman dahulu. Atau para kesatria pasukan berkuda," ucap pendiri sekaligus penanggung jawab Sanggar Enggal Condong Turonggo Budi Yanto kepada Jawa Pos Radar Solo.

Baca Juga: Keunikan Tari Buto Gedruk: Garang dan Menakutkan, Namun Memukau

Tarian ini dimulai dari gambaran persiapan maju perang. Seperti membetulkan pakaian, menata sabuk, memperkuat ikat, lalu sontak menaiki kuda.

"Dahulu tarian ini tabuhannya hanya memakai bende 3 dan kendang. Namun karena kemajuan zaman dan modifikasi, sekarang memakai gamelan komplet," sambungnya.

Dalam suguhan tari Jaran Kepang, Budi menggunakan tabuhan gamelan komplet untuk mengiringi pertunjukkan ini. Seperti saron dan lain sebagainya. "Kemudian dalam tariannya, kami masih menggunakan versi lama. Kami bisa empat hingga lima babak dalam sekali pertunjukan," tambahnya.

Lima babak yang dimaksud di antaranya, pertama tarian jaran itu sendiri. Berlanjut pada kesurupan, atraksi, beradu dengan pentul, hingga menari dengan barongan berkepala hewan. Seperti hewan harimau atau sapi.

"Gerakan tarian ini sederhana. Karena memang mengikuti musik saja. Kalau kesurupan, kami tetap menampilkan itu. Juga atraksi seperti makan kembang, makan neon, main samurai. Ini untuk hiburan saja," jelas Budi.

Meski mengikuti urutan atau bentuk klasik, sanggar Budi juga melakukan penyesuaian. Selain iringan, mereka juga mengikuti bagaimana make up zaman kini. Begitu pula dengan kostum.

"Jadi kami mengikuti bentuk klasik untuk menghormati dan tidak meninggalkan yang dahulu. Tapi kami juga mengikuti perkembangan zaman," tambahnya. (nis/nik)

Editor : Niko auglandy
#jaran kepang #tari