RADARSOLO.COM - Setelah dua tahun berturut-turut menghadirkan proyek pembangunan masif, Kota Solo akan memasuki babak baru pada 2025. Jika 2023 menghadirkan 17proyek prioritas dan 2024 dikenal dengan 24 titik pembangunan, fokus pengembangan tahun depan akan beralih ke penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan sistem pendukung di berbagai sektor.
Pakar Tata Kota Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Bambang S. Pujantiyo menilai transisi ini penting untuk memaksimalkan manfaat dari infrastruktur yang telah dibangun.
“Setelah fasilitas terbangun, langkah selanjutnya adalah penguatan SDM dan digitalisasi. Hal ini memastikan semua pembangunan bisa berdampak lebih luas,” jelas Bambang, Rabu (18/12).
Bambang mencatat sektor pendidikan dan kesehatan menjadi prioritas utama. Di bidang pendidikan, pembangunan infrastruktur seperti perbaikan sekolah perlu dilengkapi dengan program digitalisasi.
“Pelayanan berbasis teknologi harus dioptimalkan, baik dalam proses pembelajaran maupun pengelolaan fasilitas,” katanya.
Sementara itu, sektor kesehatan yang mendapat banyak pembangunan rumah sakit dan puskesmas pada 2024 perlu ditunjang dengan layanan berbasis teknologi.
Bambang menyebut integrasi layanan dengan sistem seperti BPJS Kesehatan akan mempermudah akses masyarakat dan mengurangi waktu antre.
Di sektor perekonomian, Bambang menyoroti pentingnya langkah taktis untuk mendukung Peraturan Daerah Rencana Pembangunan Industri 2024-2044.
“Ekonomi kreatif berbasis budaya seperti digitalisasi pertunjukan Wayang Orang dan pelatihan pengrajin batik dengan konsep global perlu digalakkan,” ujarnya.
Namun, tantangan besar hadir di sektor transportasi. Dukungan pemerintah pusat terhadap Batik Solo Trans akan dipangkas pada 2025. Hal ini dinilai dapat menghambat aksesibilitas masyarakat terhadap fasilitas publik seperti gelanggang olahraga dan Masjid Raya Sheikh Zayed yang telah dibangun.
Bambang juga menyoroti kurangnya perhatian pada aspek lingkungan dalam pembangunan dua tahun terakhir.
“Sustainable development yang mengedepankan keseimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan harus menjadi agenda utama. Selain itu, status Smart City Kota Solo harus dihidupkan kembali agar relevan,” tegasnya.
Dengan fokus baru di 2025, pengembangan infrastruktur di Solo diharapkan tidak hanya berorientasi pada fisik, tetapi juga pada keberlanjutan dan kualitas SDM yang mendukung kemajuan kota secara holistik. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno