Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pengecer Mulai Normal, Pangkalan Masih Antre: Gas LPG 3 Kg Kembali Tersedia di Toko Kecil

Silvester Kurniawan • Kamis, 6 Februari 2025 | 17:04 WIB
Salah satu pangkalan gas melon di Ketelan, Banjarsari, Kota Solo.
Salah satu pangkalan gas melon di Ketelan, Banjarsari, Kota Solo.

RADARSOLO.COM - Setelah beberapa pekan mengalami kelangkaan akibat kebijakan larangan penjualan di pengecer, kini gas LPG 3 Kg mulai kembali tersedia di toko-toko kecil.

Konsumen pun kini dihadapkan pada dua pilihan, yakni membeli di pengecer dengan harga lebih mahal tetapi lebih praktis, atau antre di pangkalan demi harga lebih murah.

Pantauan Jawa Pos Radar Solo, Rabu (5/2/2025), menunjukkan bahwa warga yang sebelumnya kesulitan mendapatkan gas melon mulai merasa lega karena bisa kembali membelinya di warung-warung terdekat.

Kendati demikian, harga di tingkat pengecer masih lebih tinggi dari harga eceran tertinggi (HET) Rp 18 ribu per tabung yang ditetapkan di pangkalan.

"Mulai kemarin sore sudah ada kabar kalau gas sudah bisa dibeli di warung. Saya beli tadi malam di warung tetangga seharga Rp 22 ribu per tabung. Harganya memang lebih tinggi, tapi yang penting tidak perlu antre atau pergi jauh ke pangkalan," ujar Sri, warga Sondakan, Laweyan.

Hal serupa diungkapkan Yanti, pemilik warung makan di Gajahan, Pasar Kliwon, yang akhirnya bisa kembali mendapatkan pasokan gas setelah beberapa hari mengalami kesulitan.

"Hari ini sudah bisa beli gas Rp 21 ribu di warung kelontong tetangga. Kemarin-kemarin kosong, jadi harus hemat pemakaian. Tapi saya tidak sampai antre ke pangkalan, lebih baik menunggu saja," katanya.

Berbeda dengan warga yang memilih kemudahan membeli di pengecer, sejumlah pelaku usaha kecil dan pedagang lebih memilih antre di pangkalan agar bisa mendapatkan harga termurah.

Salah satunya adalah Mariati, warga Kratonan, Serengan, yang rela datang pagi-pagi ke salah satu agen di kawasan Simpang Gemblegan, Solo.

"Datang dari pagi tadi, karena lebih murah kalau beli di pangkalan. Kalau beli di warung memang lebih mudah, tapi kalau untuk kebutuhan usaha, selisih harga sangat terasa," jelasnya.

Hal serupa juga dilakukan Danang, pedagang kentang krispy di Pajang, Laweyan. Baginya, membeli gas di pangkalan lebih menguntungkan karena bisa menekan modal usaha.

"Sehari bisa habis lebih dari satu tabung, kalau harga di pengecer lebih mahal, pasti terasa. Jadi mending antre di pangkalan," ungkapnya.

Menanggapi kondisi terbaru, Dinas Perdagangan Kota Solo memastikan bahwa pasokan gas melon di wilayah Solo Raya sudah kembali normal dan kini tersedia baik di pengecer maupun pangkalan.

"Memang biasanya seperti ini, masyarakat akan memilih cara yang paling nyaman. Warga rumah tangga biasanya beli di warung terdekat meskipun lebih mahal, sementara pelaku UMKM dan pedagang kecil lebih memilih pangkalan karena harga lebih murah," ujar Training Haryanto, Kabid Pelayanan dan Pengembangan Perdagangan, Dinas Perdagangan Kota Solo.

Meskipun gas sudah kembali tersedia, pengawasan harga oleh pemerintah hanya berlaku di tingkat pangkalan.

Di mana harga dipatok Rp 18 ribu per tabung, sementara harga di pengecer tidak bisa dikontrol langsung. (ves/bun)

Editor : Damianus Bram
#elpiji #pertamina #pengecer #pangkalan #LPG 3 Kg #gas melon