Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Festival Kuliner Non Halal di Solo Paragon Mall Kembali Ditolak Ormas, Bagaimana Sikap Pemkot Solo?

Silvester Kurniawan • Kamis, 13 Februari 2025 | 02:22 WIB
Calon wali kota Solo dari PDIP Teguh Prakosa saat mengunjungi Selter Manahan, Selasa (1/10/2024).
Calon wali kota Solo dari PDIP Teguh Prakosa saat mengunjungi Selter Manahan, Selasa (1/10/2024).

RADARSOLO.COM – Pemkot Solo memastikan penyelengaraan festival kuliner non halal mulai 12-16 Februari 2025 bisa tetap berjalan, meski mendapat penolakan dari kelompok organisasi masyarakat (ormas), Rabu (12/2).

Ditemui awak media, Rabu (12/2), Wali Kota Solo Teguh Prakosa mengatakan, pemkot akan mengawal kegaitan tersebut. Menyusul izin kegiatan yang sudah dikantongi penyelenggara.

Sikap tersebut ditunjukkan sebagai bukti bahwa masyarakat Solo yang majemuk dan cinta semangat keberagaman.

“Karena pak kapolres tetap jalan, back up, kita tetap back up. Kita ini bukan melawan agama, kita ini masyarakat yang majemuk,” terang dia.

Teguh pun menganalogikan kegiatan itu dengan gereja dan masjid yang berdampingan di Sraten, Serengan.

Meski kedua rumah ibadah itu berdiri bersebelahan, umat masing-masing rumah ibadah tentu tidak akan salah masuk.

Artinya, umat Islam tidak mungkin akan melaksanakan ibadat namun salam dengan memasuki gereja di sebelahnya.

Begitu pun dengan festival yang dihelat di Solo Paragon Mall itu, karena pintu masuk ke lokasi kuliner halal dan non halal sudah dibedakan dan ditutup dengan pembatas-pematas yang menegaskan pemisahannya.

“Masuknya itu kan sudah berbeda, di sana juga dikasih partisi. Kalau alasannya uap masakan yang membatalkan, ya kalau segitu ya bagaimana? Kalau kita mencari sampai bagian itu ya tidak akan ada habisnya,” terang dia.

Di sisi lain, Teguh menyikapi sikap ormas yang melayangkan protes.

Pihaknya pun memahami bahwa dalam tuntunan agama, tidak ada istilah non halal. Yang ada hanya halal dan haram.

Namun dalam kacamata hukum, itu tidak ada kalimat haram karena yang ada adalah halal dan non halal.

“Di mata Tuhan itu manusia sama derajatnya, harus memperlakukan sama. Dan kita tahu mana yang baik dan yang tidak, jadi masyarakat tidak akan masuk ke tempat yang itu (sisi stand kuliner non halal),” hemat Teguh.

Di waktu berbeda, sejumlah angota ormas keagaaman yang menentang penyelenggaraan kegiatan itu mendatangi lokasi festival kuliner di Solo Paragon Mall.

Sebelumnya mereka menggelar mediasi dengan pihak penyelenggara dan beberapa pihak lainnya.

“Akan tetap memantau karena tadi ada penjelasan-penjelasan yang haram akan digelar di parkiran,” kata Ketua Aliansi Umat Islam Solo Raya (AUIS) Sholeh Ahmad.

Di sisi lain, pihak Solo Paragon Mall meluruskan bahwa nama kegiatan itu sejatinya adalah Festival Cap Go Meh yang diikuti banyak tenan kuliner halal dan non halal.

Pihaknya pun memastikan bahwa penempatan tenan kuliner halal dan non halal sudah dipisah dan dipertegas.

Yakni dengan pemberian sekat sebagai penanda dan pemisah dari dua jenis kuliner yang dijajakan selama kegiatan itu berlangsung.

“Lokasi kuliner halal dan non halal dipisah. Kuliner halal digelar di atrium, sedangkan yang non halal digelar di loby 2 parkir,” ucap Deputy Operasional Solo Paragon Mall, Veronica Lahji. (ves/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#kuliner non halal #festival kuliner #wali kota solo #cap go meh #Teguh Prakosa #solo paragon mall #ormas