Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Solo is Solo Karidor Gatsu, Ikon Baru yang Hidupkan Ekosistem Seni dan Pariwisata

Maulida Afifa Tri Fahyani • Sabtu, 5 April 2025 | 04:11 WIB
Mural Didi Kempot karya seniman lokal yang terpajang di Koridor Gatsu.
Mural Didi Kempot karya seniman lokal yang terpajang di Koridor Gatsu.

 

RADARSOLO.COM - Solo is Solo Street Art Performance di kawasan Koridor Gatsu (Gatsu) telah menjadi contoh penting pemanfaatan ruang publik sebagai sarana ekspresi seni.

Setiap akhir pekan, area Gatsu tidak hanya dipenuhi oleh pedagang UMKM.

Tapi juga menjadi panggung terbuka bagi musisi lokal untuk menampilkan karya mereka.

Hal ini memperkuat ekosistem kesenian di Kota Solo, yang juga menjadi magnet baru bagi pengembangan wisata.

"Solo ini luar biasa, ekosistem keseniannya sudah tumbuh. Banyak tempat-tempat publik yang berkembang sebagai panggung pertunjukan, termasuk di koridor Gatsu yang banyak dikunjungi masyarakat," kata pengamat musik Joko S Gombloh.

Menurut Joko, pemanfaatan ruang publik memiliki dampak positif khususnya bagi eksistensi musisi lokal.

Adanya ruang terbuka tanpa segmentasi penonton tertentu ini membuat musisi dapat mengaktualisasikan karya lebih luas.

"Di sana kan tidak ada pembagian kelas, semua ada mulai dari tukang becak sampai mungkin masyarakat kelas elit mungkin lalu-lalang dan tertarik pertunjukan di Gatsu. Ini yang bisa meningkatkan pamor si musisi sendiri," urainya.

Konsep panggung terbuka di Gatsu juga relevan dengan karakteristik street art performer sendiri.

Namun berbeda dengan pengamen biasa, para musisi di Gatsu benar-benar mempersiapkan diri untuk menampilkan karya mereka.

"Mereka tidak sekadar mengamen. Mereka menyiapkan sound system, menata panggung, dan benar-benar menyusun pertunjukan mereka agar bisa dinikmati dengan baik oleh audiens," jelas Joko.

"Ini saya kira membuat Solo is Solo sedikit mewarnai domain street art itu sendiri, menjadi lebih tertata dan terstruktur," sambungnya.

Konsep panggung terbuka di ruang publik, lanjut Joko, juga memiliki kelebihan dengan terciptanya kedekatan antara musisi dan penonton.

Ini menciptakan atmosfer yang lebih hidup dan dinamis. Yang tidak bisa ditemukan di pertunjukan pada panggung-panggung konvensional.

"Suasana di Gatsu itu lebih cair dan akrab. Musisi dan penonton berinteraksi tanpa sekat, sehingga musisi bisa lebih bebas mengekspresikan musik mereka, itu kelebihannya," tambahnya.

Solo is Solo di Koridor Gatsu juga memberi kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati seni dalam suasana yang lebih santai.

Ke depan, Joko berharap agar ekosistem seni di Gatsu terus terjaga dan berkembang.

Dengan dukungan dari masyarakat dan pemerintah, Koridor Gatsu dapat menjadi ikon baru bagi Kota Solo.

Tidak hanya mendukung seni, tetapi juga menjadi magnet baru bagi sektor pariwisata dan perekonomian kota.

“Jika ekosistem yang terbentuk ini terus berkembang, Gatsu akan semakin menjadi pusat seni yang ramai dikunjungi. Tidak hanya musisi yang diuntungkan, tetapi juga masyarakat dan pedagang yang ada di sekitar area tersebut,” ujar Joko.

"Inilah pentingnya untuk menjaga ekosistem di Gatsu saat ini, dengan berinovasi agar kebutuhan masyarakat, seniman, maupun pelaku UMKM tetap ada," sambungnya. (ul/nik)

Editor : Syahaamah Fikria
#Koridor Gatsu #Solo is solo #seniman #pariwisata #street art #wisata