RADARSOLO.COM - Wayang Orang Sriwedari bukan hanya sekadar tontonan. Pertunjukan ini merupakan napas sejarah tangan-tangan seniman Kota Bengawan.
Di balik layar, proses kreatif tak pernah berhenti. Naskah-naskah klasik dibaca ulang. Coba dipertemukan dengan era kini.
Setiap gerak-gerik. Setiap adegan dan dialog tak muncul tiba-tiba.
Di balik itu, terjadi proses riset dan referensi mendalam.
Sang sutradara menggali cerita, mencari referensi, baru mengemasnya ke dalam sajian panggung yang tetap setia pada akar budaya, namun bisa dinikmati generasi kini.
"Untuk proses kreatif sebagai seorang sutradara, tentunya dalam diri sendiri, proses kreatifnya hampir sama. Kita pasti mengacu pada sebuah referensi, entah itu bentuknya video ataupun cerita lama yang sudah dibeberkan dalam sebuah rangkaian cerita. Yang mana, lakon tersebut didapatkan dari salinan yang dahulu," sebut salah satu sutradara Wayang Orang Sriwedari Risang Janur Wendo kepada Jawa Pos Radar Solo.
Baca Juga: Lelucon Punakawan Warnai Lakon di Wayang Orang Sriwedari: Mimik Lugu Jenaka dan Celetukan Spontan
Setelah menentukan lakon, langkah yang tak kalah penting adalah menyanggit. Menyulap dan membungkus cerita supaya lebih menarik.
Tak sekadar mementaskan cerita lama, para seniman Wayang Orang Sriwedari didorong memberi sentuhan segar agar relevan dan menghibur.
Risang menambahkan, proses kreatif ini bukan hanya soal seni, tapi juga bagian dari visi misi Pemerintah Kota Solo untuk memajukan kebudayaan.
"Menyanggit itu merelevankan cerita dahulu ke zaman sekarang," lanjutnya.
Menurutnya, dalam naskah asli, satu lakon bisa berdurasi sangat panjang.
Jika mengikuti alur lengkap atau lajer, sebuah pertunjukan bisa berlangsung hingga dini hari. Oleh karena itu, pertunjukan perlu diolah kembali agar lebih cocok untuk durasi dan selera penonton era ini.
"Dalam pengolahannya, kita harus mempunyai bekal wawasan dan lain sebagainya. Nah, tidak hanya saya yang melakukan itu, tapi semua melakukan itu. Kami juga bertanya ke yang lebih tahu, mungkin kepada narasumber, dalang atau bisa yang lain untuk merelevankan cerita tersebut tanpa mengurangi inti dari cerita yang ada di dalamnya," papar Risang.
Risang menyebut, banyak dari mereka yang merupakan lulusan perguruan tinggi seni. Alhasil, dalam proses kreatifnya membawa perspektif akademik dalam setiap garapan.
"Selanjutnya bagaimana penyusunan lakon dilakukan? Penyusunan lakon untuk satu bulan itu dilakukan pada minggu terakhir bulan tersebut untuk bulan ke depan," imbuh Risang.
Dalam diskusi tersebut, semua sutradara berkumpul membahas tentang lakon yang akan dilaksanakan di bulan berikutnya. Tujuannya supaya lakon tidak tumpuk dengan sutradara yang lain.
"Ini juga memberikan warna yang baru kepada penonton sehingga penonton tidak jenuh dengan cerita yang itu-itu saja," tandasnya.
Sutradara juga melakukan evaluasi rutin untuk mengoleksi garapan sebelumnya. Setidaknya satu bulan sekali mereka berkumpul bersama. Bertukar pikiran demi kemajuan Wayang Orang Sriwedari itu sendiri.
"Jadi nanti kita juga mengetahui apa kekurangan dari kita. Kritik dan saran juga membuat kita lebih hidup dan lebih berwarna," tuturnya. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy