Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Jateng Jajaki Kerja Sama Uni Eropa untuk Produksi Beras Rendah Karbon

Silvester Kurniawan • Selasa, 1 Juli 2025 | 00:07 WIB
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi kerja sama dengan Uni Eropa dengan sektor pertanian. (Humas Pemkot)
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi kerja sama dengan Uni Eropa dengan sektor pertanian. (Humas Pemkot)

RADARSOLO.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) menjajaki kerja sama dengan Uni Eropa dalam sektor pertanian untuk meningkatkan swasembada pangan yang rendah karbon di wilayah Jawa Tengah.

Kerja Sama ini difokuskan pada produksi beras berkelanjutan melalui proyek SWITCH-Asia Low Carbon Rice Project yang dihadiri dalam pertemuan di Balaikota Surakarta, Senin (30/6).

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi bersama jajaran pemerintah daerah, didampingi oleh Wali Kota Solo Respati Ardi, dan Wakil Wali Kota Astrid Widayani, menjamu kunjungan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia H.E. Denis Chaibi.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas kemungkinan kerja sama dalam upaya swasembada pangan yang ramah lingkungan, khususnya dalam produksi beras rendah emisi.

“Hari ini saya bersama delegasi Uni Eropa dari beberapa negara seperti Spanyol, Belanda, Bulgaria, Jerman, dan Swedia, untuk menindaklanjuti hubungan bilateral yang sudah terjalin,” ujar Ahmad Luthfi.

Luthfi mengatakan, fokus utama Jawa Tengah adalah swasembada pangan d dengan mengutamakan rendah emisi karbon. Agar investasi dapat lebih banyak masuk ke Jawa Tengah,” ungkap Luthfi.

Proyek SWITCH-Asia Low Carbon Rice akan dibiayai oleh Uni Eropa, bekerjasama dengan Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) serta Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) di Jawa Tengah.

Kerja Sama ini diharapkan dapat memberikan pendampingan kepada 150 penggilingan padi di wilayah tersebut, mencakup daerah-daerah seperti Klaten, Banyumas, Pemalang, Magelang, dan Boyolali.

“Dengan pendampingan ini, teknologi pasca panen yang ramah lingkungan akan diterapkan, menggantikan penggunaan mesin diesel dengan energi listrik,” ujar Luthfi.

“Hal ini diharapkan dapat menurunkan emisi karbon serta menurunkan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan petani beras,” imbuh dia.

Luthfi menambahkan bahwa Jawa Tengah memiliki luas lahan tanam 1,5 juta hektar dengan hasil beras mencapai 18,8 juta ton per tahun.

Provinsi ini menjadi produsen beras terbesar kedua di Indonesia setelah Jawa Timur, dan dengan program ini, Jawa Tengah bertujuan untuk terus mempertahankan statusnya sebagai daerah swasembada pangan.

Program SWITCH-Asia telah diterapkan di 42 negara di Asia, Timur Tengah, dan Pasifik, mendanai 158 proyek yang melibatkan lebih dari 500 mitra dari Asia dan Eropa.

"Kami juga akan melibatkan sektor CSR, seperti Bank Indonesia yang sudah berjalan di enam titik di Indonesia. Program ini sejalan dengan upaya pertanian organik yang mengurangi emisi karbon dalam proses budidayanya," tambah Luthfi. (zia/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#pangan #swasembada #pemprov jateng #produksi beras