Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Transisi ke Kendaraan Listrik: Pendekatan Holistik, Energi Bersih hingga Memberikan Insentif Menarik

Antonius Christian • Selasa, 8 Juli 2025 | 01:43 WIB
Kendaraan listrik sedang mengisi daya. (A Christian/Radar Solo)
Kendaraan listrik sedang mengisi daya. (A Christian/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Kendaraan  listrik semakin menunjukkan eksistensinya di pasar Indonesia, namun perjalanan menuju dominasi kendaraan ramah lingkungan ini masih penuh tantangan. Di Solo, meskipun masyarakat mulai beralih, transisi ini belum sepenuhnya lancar, terutama dengan adanya kekhawatiran soal harga dan infrastruktur.

Guru Besar Teknik Elektro Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Muhammad Nizam mencatat bahwa perkembangan industri kendaraan listrik (EV) di Indonesia menunjukkan tren yang menggembirakan.

“Jumlah produk yang masuk ke Indonesia meningkat, terutama dari pabrikan luar negeri. Animo masyarakat juga semakin besar, terlihat dari volume pembelian yang terus naik,” jelas Nizam.

Seiring dengan meningkatnya pilihan kendaraan listrik, jumlah SPKLU juga semakin banyak tersebar. SPKLU yang berada di rest area jalan tol dan pusat kota menjadi faktor penting yang mempermudah pengisian daya kendaraan.

“Meski jumlahnya masih terbatas, terutama dalam hal teknologi fast charging, keberadaan SPKLU sudah cukup membantu pengguna kendaraan listrik,” tambah Nizam.

Dengan hadirnya teknologi fast charging, pengisian daya yang sebelumnya memakan waktu lama kini bisa lebih cepat, memungkinkan kendaraan listrik menempuh jarak hingga 500 kilometer hanya dalam waktu 30 menit.

“Untuk penggunaan sehari-hari, pengisian setengah daya sudah cukup, apalagi di kota,” ujar Nizam, menjelaskan keuntungan mobilitas yang semakin mempermudah penggunanya.

Namun, permasalahan tetap ada. Salah satu hambatan yang dihadapi adalah harga kendaraan listrik yang masih terbilang tinggi, meskipun harga baterai sudah mulai turun.

“Saat ini, harga mobil listrik dan mobil berbahan bakar minyak (BBM) sudah hampir sama. Bahkan dengan fitur teknologi yang lebih canggih, mobil listrik mulai punya daya saing,” jelas Nizam.

Namun, tantangan terbesar yang harus dihadapi adalah mindset masyarakat yang cenderung memperhatikan nilai jual kembali kendaraan.

“Masyarakat Indonesia lebih memikirkan harga jual kembali kendaraan, berbeda dengan di luar negeri yang cenderung membeli untuk jangka panjang,” kata Nizam.

Perkembangan teknologi yang sangat cepat juga menambah kecemasan calon konsumen tentang kemungkinan produk yang mereka beli cepat ketinggalan zaman.

Satu lagi isu yang sering menjadi bahan perdebatan adalah daya tahan baterai. Nizam menjelaskan bahwa saat ini banyak produsen memberikan garansi hingga 8 tahun, dan dengan perawatan yang baik, baterai kendaraan listrik dapat bertahan lebih dari 10 tahun.

Namun, ada juga isu yang lebih luas, yaitu emisi yang mungkin tetap terjadi jika sumber energi untuk pengisian daya kendaraan listrik berasal dari pembangkit fosil.

“Jika listrik yang digunakan berasal dari batu bara, polusi tetap terjadi. Untuk benar-benar mengurangi polusi, pembangkit listrik harus menggunakan energi terbarukan,” ujar Nizam.

Nizam juga memandang bahwa target pemerintah untuk membuat semua kendaraan di Indonesia beralih ke listrik pada 2060 sangatlah sulit tercapai tanpa perubahan besar dalam pola pikir masyarakat. “Perubahan pola pikir itu memerlukan waktu panjang,” tegasnya.

Namun, ia juga menambahkan bahwa kenaikan harga BBM di masa depan dapat mempercepat transisi ke kendaraan listrik, terutama jika masyarakat mencari alternatif yang lebih hemat biaya.

“Pemerintah perlu melakukan pendekatan holistik, mulai dari penyediaan energi bersih hingga memberikan insentif yang tepat untuk mendorong adopsi kendaraan listrik,” tutup Nizam. (atn/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#holistik #insentif #kendaraan listrik #spklu #fast charging