RADARSOLO.COM – Proyek peningkatan ruas Jalan RE Martadinata mendapat perhatian serius dari Komisi III DPRD Kota Solo. Dalam inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan pada Selasa (9/7), para anggota DPRD menyoroti beberapa persoalan yang muncul di lapangan, termasuk kualitas pekerjaan dan masalah drainase.
Ketua Komisi III DPRD Kota Solo Taufiqurrahman menjelaskan bahwa proyek perbaikan jalan sepanjang sekitar 800 meter tersebut menelan anggaran sekitar Rp 2,5 miliar. Nilai ini lebih rendah dibandingkan dengan pagu anggaran yang sebelumnya ditetapkan, yakni sekitar Rp 3 miliar. Meskipun begitu, ia menekankan pentingnya menjaga kualitas pekerjaan agar proyek berjalan sesuai harapan.
“Dari pagunya memang Rp 3 miliar, tetapi setelah proses lelang, nilai kontraknya sekitar Rp 2,5 miliar. Kami akui ini memang wajar dalam proses tender. Namun yang terpenting, kualitas pekerjaan harus tetap menjadi prioritas. Tidak boleh asal-asalan,” tegas Taufiqurrahman saat memantau proyek di lapangan.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kualitas karena jalan tersebut merupakan jalur vital yang dilalui banyak kendaraan setiap hari. "Ini jalur vital, dilalui banyak kendaraan setiap hari. Jadi saya tekankan ke pelaksana agar kualitas tetap dijaga. Soal waktu pengerjaan nanti bisa dibahas, tapi kualitas harus diutamakan,” tambahnya.
Selain kualitas, Taufiqurrahman juga menyoroti pentingnya percepatan pengerjaan proyek. Mengingat Jalan RE Martadinata merupakan akses utama warga menuju pusat kota, percepatan pengerjaan sangat dibutuhkan untuk mengurangi kemacetan.
“Kalau bisa dipercepat, ya dipercepat. Karena jalan ini cukup padat. Saya sendiri beberapa kali lewat sini dan kondisi jalannya sangat diperlukan. Jadi, selain kualitas, percepatan juga perlu,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Solo YF Sukasno mengungkapkan kekhawatirannya terkait drainase di sepanjang ruas jalan tersebut. Menurutnya, saluran air di area tersebut tertutup, menghalangi akses air dari rumah warga maupun pertokoan. Hal ini dapat menimbulkan masalah baru, terutama saat musim hujan.
“Proyek ini targetnya selesai 5 September. Saat ini tinggal beberapa spot yang perlu dirampungkan, terutama di jalur penghubung antara Jalan Gotong Royong hingga depan pasar. Tapi yang menjadi perhatian kami, saluran drainase di kawasan ini semuanya tertutup,” kata Sukasno.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut bisa menyebabkan genangan air di pemukiman warga jika tidak segera ditangani. Sukasno meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Solo untuk segera merencanakan penanganan drainase setelah proyek selesai.
“Drainase ini belum dianggarkan di tahun ini. Maka setelah pekerjaan jalan selesai, kami akan komunikasikan dengan PUPR agar segera dilakukan perencanaan penanganannya. Jangan sampai nanti baru selesai jalannya, malah muncul masalah genangan air di pemukiman warga,” tegasnya.
Di sisi lain, Kepala K3 Proyek Jalan RE Martadinata, Krisna Putra, menjelaskan secara rinci progres pekerjaan yang telah dilakukan. Proyek ini dimulai pada 19 Maret lalu dan ditargetkan selesai pada 5 September. Ia menyebutkan bahwa saat ini progres pekerjaan sudah mencapai 36 persen, dengan pengaspalan mencapai 70 persen.
“Kami mulai dari galian sedalam 25 cm dan mengisinya dengan material CTB (Cement Treated Base) kelas A setebal 20 cm. Setelah itu, dilapisi aspal AC-BC setebal 6 cm dan bodip 4 cm sebagai lapisan pelindung terakhir,” ungkap Krisna.
Krisna juga memastikan bahwa meskipun nilai kontrak proyek lebih rendah dari pagu anggaran, hal tersebut tidak akan mempengaruhi kualitas pekerjaan. "Anggaran hasil lelang memang lebih rendah dari pagu. Tapi, kami tetap utamakan kualitas. Jadi insya Allah aman," tandasnya. (atn/bun)
Editor : Kabun Triyatno