RADARSOLO.COM - Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya memeriksa sejumlah rekan Presiden RI ke-7 Joko Widodo guna memperdalam penyelidikan kasus dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan hoaks yang dilaporkan Jokowi ke kepolisian.
Salah satu yang diperiksa adalah Sigit Haryanto, teman sekolah Jokowi saat di SMAN 6 Surakarta tahun 1980.
Ia menyebut, dirinya bersama dua rekan lain sudah dimintai keterangan secara resmi.
"Jadi kami diperiksa intinya, kami bertiga, sudah diperiksa, di BAP, untuk penyidikan Polda Metro Jaya," kata Sigit.
Baca Juga: Ijazah Jokowi Sudah Disita Penyidik, Siap Jadi Bukti di Persidangan
"Untuk pertanyaannya sekitar 95, pada intinya seputar pada saat itu, kami adalah siswa sekolah SMA 6 atau pada waktu itu masih bernama SMPP. Pertanyaan itu apakah kami mengenal pak Jokowi. Tentu kami sangat mengenal, karena lulus bersama," imbuhnya.
5 Ijazah Disita sebagai Pembanding
Tak hanya mengusut dokumen milik Jokowi, penyidik juga menyita lima ijazah milik rekan-rekannya untuk kebutuhan uji forensik dan pembanding.
"Ada 5 ijazah, jadi ini sebagai pembanding. Sebagai bukti dan uji foreksi serta untuk proses hukum selanjutnya. Jadi semua sudah berjalan dengan baik, sesuai apa yang diminta dari penyidik," jelas Sigit.
Baca Juga: Jokowi Diperiksa di Mapolresta Solo Terkait Dugaan Fitnah, Bawa Ijazah Asli SD Hingga S1
Kronologi Perubahan Nama Sekolah yang Jadi Polemik
Sementara itu, Bambang Surojo, rekan Jokowi lainnya, turut menjelaskan sejarah perubahan nama sekolah yang sempat menjadi sorotan publik.
Awalnya, para siswa mendaftar di SMA 5 Surakarta, yang memiliki 11 rombongan belajar (rombel).
"Kelas 1.1 sampai 1.6 tetap bersekolah di SMA 5 Surakarta, sedangkan kelas 1.7 sampai 1.11 masuk siang karena sekolah baru—SMA 6—masih dalam proses pembangunan. Kami masuk siang sekitar 6 bulan," ujarnya.
Setelah pembangunan ruang kelas selesai, para siswa pindah ke sekolah baru dengan nama SMPP/SMA 6 Surakarta.
"Mengenai perubahan nama yang jadi polemik, yang digoreng-goreng, itu adalah kebijakan dari pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Hingga kemudian lulus tahun 1980, tepatnya 30 April 1980," urai Bambang.
Duduk Satu Bangku dengan Jokowi
Bambang juga menyatakan bahwa ia sangat mengenal sosok Jokowi, karena selama tiga tahun duduk sebangku di sekolah yang sama.
"Jadi kami sebagai saksi kebasahan, kebenaran, dan otentiknya. Sehingga bisa membuktikan kalau Pak Jokowi benar siswa SMA Negeri 6 Surakarta," pungkasnya.(atn)
Editor : Nur Pramudito