RADARSOLO.COM – Sungai Jenes kembali tercemar. Ironisnya, pencemaran kali ini bukan hanya berupa sampah rumah tangga biasa, tetapi juga limbah medis dan bangkai hewan.
Temuan ini mencuat saat kegiatan bersih-bersih rutin yang dilakukan para relawan dan warga di kawasan pintu air Kleco, Kelurahan Pajang, Minggu (27/7).
Dari hasil pengangkatan sampah yang dilakukan sejak pagi hingga siang, tak kurang dari 2,5 hingga 3 ton sampah terangkat.
Sampah-sampah ini terjaring di trash barrier yang dipasang di aliran Sungai Jenes, anak Sungai Bengawan Solo.
Namun, yang mengundang keprihatinan mendalam bukan hanya banyaknya volume sampah, tetapi jenis-jenisnya yang semakin mencemaskan.
Kasi Pemerintahan, Ketentraman, dan Ketertiban Umum Kelurahan Pajang Agus Daryanto mengungkapkan, selain sampah organik seperti bonggol pisang dan buah busuk, ditemukan pula bangkai babi serta limbah medis yang membahayakan lingkungan dan kesehatan masyarakat.
“Kemarin yang terangkat sekira dua setengah sampai tiga ton. Separuh dari total itu adalah bonggol pisang. Tapi yang sangat mengerikan, ada bangkai babi yang membusuk, dan juga limbah medis seperti selang infus, popok, bahkan botol-botol obat bekas pakai,” ujar Agus, kemarin (28/7).
Temuan ini mempertegas kondisi darurat yang terjadi di Sungai Jenes.
Apalagi, sungai ini mengalirkan air ke wilayah padat penduduk dan bermuara ke Bengawan Solo yang menjadi sumber air baku bagi PDAM.
Menurut Agus, dugaan sementara sumber sampah organik seperti bonggol pisang dan buah busuk berasal dari pasar-pasar tradisional yang berada di hulu sungai, sebagian besar masuk wilayah Kabupaten Sukoharjo. Sedangkan limbah medis diduga kuat berasal dari fasilitas kesehatan, baik puskesmas, klinik, maupun rumah sakit yang juga berada di jalur aliran sungai tersebut.
“Kita tahu di hulu ada beberapa pasar dan fasilitas layanan kesehatan. Ini perlu perhatian khusus. Terlebih limbah medis tidak boleh dibuang sembarangan. Ini bukan hanya melanggar aturan, tapi juga membahayakan keselamatan warga,” tegasnya.
Agus menyebutkan, pihaknya bersama para relawan sudah mulai menjalin komunikasi dengan wilayah hulu, termasuk pemerintah kelurahan dan kecamatan di Sukoharjo, untuk melakukan edukasi kepada masyarakat agar tidak lagi membuang sampah ke sungai.
“Kami sudah coba koordinasi lintas wilayah. Harapannya ada peran aktif dari lurah dan camat di hulu sungai untuk mengedukasi warganya. Jangan semua sampah dialirkan ke Solo. Kasihan teman-teman relawan yang harus kerja keras setiap pekan mengangkut sampah dari sungai,” imbuhnya.
Kegiatan bersih-bersih ini sendiri melibatkan banyak pihak. Di antaranya Relawan Joko Tingkir Pajang, relawan lintas wilayah dari Sukoharjo, Pramuka Cinta Lingkungan, Babinsa, Babinkamtibmas, Linmas, serta Mapala dari Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Banser dan warga sekitar juga ambil bagian.
Menyikapi temuan limbah medis di sungai, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kota Solo Y.F. Sukasno, meminta agar dinas lingkungan hidup (DLH) segera turun tangan melakukan penyelidikan. Dia menekankan bahwa limbah medis tidak boleh dibuang sembarangan karena tergolong limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun).
“Kalau benar itu limbah medis, ini masalah serius. Kami punya perda pengelolaan sampah, dan itu jelas melarang pembuangan limbah medis ke tempat terbuka, apalagi ke sungai. Harus dikelola secara khusus,” ujarnya tegas.
Sukasno juga menekankan perlunya sanksi tegas bagi pihak-pihak yang terbukti membuang limbah medis ke sungai.
Ia mengatakan, jika perlu DPRD bersama DLH akan menelusuri langsung aliran sungai untuk mengidentifikasi sumber limbah.
“Coba DLH telusuri, dari mana itu berasal. Kalau memang terbukti berasal dari fasilitas kesehatan, itu bisa dikenai sanksi. Ini bukan hanya merusak lingkungan, tapi juga mencemari air yang nanti dikonsumsi warga. Air sungai itu mengalir sampai ke Semanggi, Sangkrah, Gandekan, Pucangsawit, masuk ke Bengawan Solo, bahkan jadi bahan baku PDAM Jebres,” papar politisi PDIP itu.
Menurutnya, pencemaran ini tidak boleh dibiarkan karena berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Air dari PDAM yang bersumber dari aliran sungai tersebut disalurkan ke ribuan rumah tangga di Kota Solo. Jika air bakunya tercemar limbah medis, maka kualitas air yang dikonsumsi pun bisa membahayakan kesehatan.
“Saya sendiri di rumah pakai air dari PDAM, jadi saya tahu betul pentingnya menjaga kualitas air baku. Kalau ada limbah medis dibuang sembarangan dan masuk ke sistem itu, bisa sangat membahayakan,” katanya. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy