Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Tiga Kader PDIP Membelot ke PSI, Ketua DPC F.X. Hadi Rudyatmo: Itu Namanya Tidak Tahu Diri

Antonius Christian • Selasa, 12 Agustus 2025 | 16:25 WIB
Ketua DPC PDIP Solo F.X. Hadi Rudyatmo. (A Christian/Radar Solo)
Ketua DPC PDIP Solo F.X. Hadi Rudyatmo. (A Christian/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Ketua DPC PDI Perjuangan (PDIP) Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, menanggapi dingin hengkangnya tiga mantan kader—Ginda Ferachtriawan, Dyah Retno Pratiwi, dan Wawanto—yang kini resmi berlabuh di Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Menurut Rudy, perpindahan mereka sama sekali tidak mengganggu kekuatan PDIP di Solo yang sudah mengakar sejak lama.

“Hilangnya tiga orang ini tidak menggerus suara PDIP. Mereka semua punya masalah masing-masing dan belum pernah menjadi figur struktural penting di DPC,” ujarnya, Selasa (12/8).

Rudy menegaskan, PDIP bukan sekadar kendaraan politik, tetapi rumah ideologi nasionalisme yang berdiri kokoh sejak fusi enam partai menjadi PDI pada 1973, lalu bertransformasi menjadi PDI Perjuangan.

“Kalau orang benar-benar paham ideologi partai, dibunuh pun tetap PDIP. Kalau pindah, berarti memang dari awal hanya mencari sesuatu lewat politik. Itu bedanya kader asli dan penumpang,” tegasnya.

Ia lantas membeberkan latar belakang ketiga mantan kader tersebut. Menurut Rudy, Ginda Ferachtriawan bukanlah kader yang tumbuh dari akar PDIP.

“Dulu bukan siapa-siapa. Kita calonkan jadi anggota DPRD dua periode sebagai penghargaan kepada ayahnya—meski ayahnya pernah kena kasus korupsi. Tapi perintah ketua umum pun dia abaikan saat Pilkada kemarin,” ujarnya.

Wawanto, lanjut Rudy, hanya pernah menjadi pengurus ranting dan tidak terpilih lagi. “Itu artinya integritasnya dipertanyakan,” katanya.

Baca Juga: Heboh! Sosok Animator Merah Putih: One for All Bongkar Biaya Produksi Hanya Rp1 Juta: Buat Traktir Pengisi Suara di Warteg
Sementara Dyah Retno Pratiwi juga dinilai bukan kader inti. “Jadi anggota DPRD pun semua prosesnya saya yang urus, dari pendaftaran hingga administrasi. Itu namanya tidak tahu diri,” sindirnya.

Rudy menambahkan, DPC PDIP Solo sudah memecat ketiganya lewat surat resmi ke DPP.

“Kalau mau kirim surat pengunduran diri silakan, tapi secara organisasi, mereka sudah dipecat. Melanggar perintah ketua umum sama saja dengan pengkhianatan,” tegasnya.

Ia mengutip arahan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri: “Kalau tidak suka, keluar. Pergi. Apalagi kalau melanggar aturan partai.”

Rudy mengaku sudah lama tak berkomunikasi dengan mereka. “Kalau ketemu Ginda di acara manten ya salaman biasa, tapi urusan organisasi sudah tidak ada lagi,” katanya.

Bagi Rudy, keluarnya tiga orang tersebut justru tak memberi dampak signifikan.

“Kader banteng sejati akan tetap setia. Mereka bukan pembangun partai dari awal, hanya pernah jadi anggota DPRD tanpa pengalaman struktural,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua DPW PSI Jateng Antonius Yogo Prabowo membenarkan bahwa ketiganya sudah resmi menjadi anggota PSI. Dyah dan Wawanto mendaftar pada Jumat sore (8/8), sementara Ginda lebih dulu bergabung sebelum Kongres PSI di Solo.

“Mungkin ini efek kongres. Banyak tokoh dan relawan tertarik masuk PSI. Masih ada tokoh Solo lain yang akan menyusul,” katanya.

Yogo menduga mereka tertarik karena kesamaan visi, terutama dalam gerakan kepemudaan. PSI pun membuka peluang menempatkan mereka di struktur kepengurusan setelah melalui mekanisme partai.

“Kami tidak ingin ada gesekan antarpartai. Administrasi keanggotaan tetap harus lengkap,” ujarnya. (atn)

 

Editor : Kabun Triyatno
#pdip #membelot #kader #dipecat #psi