RADARSOLO.COM - Wakapolresta Solo AKBP Sigit akhirnya angkat bicara terkait video viral dugaan penganiayaan anggota brimob terhadap sopir serta kru ambulans saat mengevakuasi korban demo di Solo, Jumat (29/8/2025) malam.
Dalam pertemuannya bersama para sukarelawan dan kru ambulans, AKBP Sigit menegaskan bahwa kepolisian akan bertanggung jawab penuh atas korban yang mengalami kekerasan.
“Malam ini saya langsung menemui para relawan ambulans. Pertama, kami akan bertanggung jawab penuh kepada korbannya," kata AKBP Sigit dikutip dari Instagram @icssukoharjo.
"Saya sudah tugaskan tiga orang untuk menjaga sampai selesai, sampai sembuh,” ujar AKBP Sigit dalam video yang beredar di grup WhatsApp relawan.
Lebih lanjut, Sigit menegaskan pihaknya akan menindaklanjuti anggota brimob yang diduga melakukan aksi kekerasan tersebut.
Baca Juga: Viral Video Sopir Ambulans Diduga Dianiaya Brimob saat Tolong Pendemo Luka di Solo
“Sudah ada satu yang terlihat di media. Nanti akan ditindak sesuai aturan yang berlaku, tentu harus bertanggung jawab,” imbuhnya.
Selain itu, Wakapolresta juga mengimbau para relawan medis di Soloraya untuk tetap menjaga sinergitas dan persaudaraan (paseduluran).
Ia berharap insiden ini tidak memecah belah kerja sama yang sudah terjalin baik antara aparat dan relawan.
Kronologi Dugaan Penganiayaan Sopir Ambulans oleh Aparah Brimob
Sebelumnya, video mobil ambulans diadang dan sopir serta krunya dianiaya beredar luas di media sosial.
Ambulans tersebut saat itu tengah mengevakuasi seorang pendemo yang terkena gas air mata di dekat Lapas Solo.
Petugas medis bernama Noval, dalam video yang beredar, memaparkan kronologi kejadian.
Menurutnya, ambulans yang dikemudikannya dihentikan paksa oleh aparat. Setelah pintu kendaraan dibuka, dua relawan menjadi sasaran kekerasan.
“Satu rekan saya, driver ambulans Mas Mantri atas nama Dika, ditarik keluar dan langsung dipukul. Ada juga rekan lain bernama Radit, dia juga ikut dipukul,” jelas Noval.
Tak hanya itu, kunci ambulans sempat direbut hingga menghambat proses evakuasi korban.
Setelah berhasil merebut kembali kunci, mereka membawa dua relawan yang mengalami luka di kepala ke RS PKU Muhammadiyah Solo.
Noval menegaskan timnya sudah menggunakan identitas jelas sebagai petugas medis, baik dari rompi bertuliskan rescue maupun tulisan paramedic di bagian depan.
Ambulans juga sebelumnya sudah diperiksa polisi dan dipastikan tidak membawa barang berbahaya.
“Kami benar-benar seratus persen ingin mengevakuasi para pendemo yang terkena sasaran. Tapi dua rekan saya jelas-jelas menjadi korban kekerasan,” tegasnya.(np)
Editor : Nur Pramudito