RADARSOLO.COM – Kota Bengawan memanas. Sejak Jumat hingga Sabtu dini hari (29–30/8/2025), ketegangan kian meruncing di sejumlah titik pusat Kota Solo.
Berawal dari aksi demonstrasi besar di depan Mako Brimob Manahan, massa akhirnya terpaksa dibubarkan dengan tembakan gas air mata.
Namun, bukannya reda, situasi justru semakin liar saat malam menjelang. Gerombolan massa berpindah ke sepanjang Jalan Slamet Riyadi, jalur utama jantung kota. Kericuhan pecah dari kawasan Stadion Sriwedari, Gladak, hingga depan Balaikota Surakarta.
Batu berserakan di jalan. Pot-pot tanaman pecah menjadi puing. Plang penunjuk arah dicabut dan dirusak. Bahkan, titik-titik api sempat muncul di setiap perempatan.
Ledakan petasan bercampur gas air mata menambah malam itu mencekam. Suasana Solo seakan kembali diselimuti bayang-bayang trauma masa lalu.
Kondisi ini memunculkan keprihatinan publik. Banyak warga memilih mengurung diri di rumah, enggan keluar karena takut menjadi korban ketegangan yang kian sulit dikendalikan.
Di tengah kekhawatiran itu, sejumlah tokoh masyarakat mulai bersuara. Ketua PCNU sekaligus Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Solo, Muhammad Mashuri, menyerukan pesan damai.
“Pertama-tama kami mengucapkan belasungkawa atas adanya korban dalam aksi demo yang terjadi beberapa hari terakhir. Semoga almarhum diterima di sisi Allah SWT, ditempatkan di tempat terbaik, dan keluarga diberikan kesabaran serta ketabahan,” ucap Mashuri.
Ia menegaskan, aksi anarkis tidak pernah membawa kebaikan, justru menyisakan luka dan kerugian yang lebih besar.
“Saya menghimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya Kota Solo, untuk menjaga wilayah masing-masing agar tetap aman, nyaman, dan kondusif. Sampaikan aspirasi dengan cara-cara yang baik, bukan dengan merusak fasilitas umum,” katanya.
Mashuri juga mengingatkan bahwa Solo memiliki sejarah panjang kerukunan antaretnis dan antaragama. Karena itu, warga punya tanggung jawab moral untuk merawat keharmonisan tersebut.
“Jangan sampai kita diadu domba atau terprovokasi. Mari jaga kota ini bersama-sama. Solo adalah rumah kita semua, tempat kita hidup, bekerja, dan membesarkan anak-anak kita. Maka sudah seharusnya kita menjaga dan merawatnya,” tegasnya. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy