RADARSOLO.COM – Duka menyelimuti Pasar Gede Solo setelah seorang tukang becak, Sumari, 60, meninggal dunia saat kericuhan melanda Bundaran Gladak hingga Balai Kota Solo, Jumat (29/8) malam.
Jenazah pria asal Pacitan, Jawa Timur itu rencananya akan dimakamkan di kampung halamannya.
Beredar video di media sosial yang menampilkan warga mengevakuasi tubuh Sumari menggunakan becak motor.
Korban diduga terdampak paparan gas air mata saat tertidur di atas becaknya di emperan Pasar Gede.
Namun, keluarga menyebut almarhum memiliki riwayat penyakit jantung dan asma.
Bhabinkamtibmas Kelurahan Sudiroprajan, Polsek Jebres Aipda Rudy Ardhiawan, yang malam itu bertugas bersama Babinsa dan warga, menceritakan kronologi evakuasi.
Sekira pukul 23.00, dia melihat seorang pria bertelanjang dada terlihat lemas di dekat gedung parkir Ketandan.
“Korban sempat duduk, lalu muntah sambil memegangi dada. Kami bersama warga berinisiatif membawa korban ke RSUD dr Moewardi. Sayangnya, saat mendapat penanganan, korban meninggal dunia,” jelas Rudy.
Baca Juga: Diminta Tak Terprovokasi, Bupati Hamenang Ajak Masyarakat Jaga Kondusifitas Klaten
Rudy menambahkan, pihaknya sudah melakukan klarifikasi dengan keluarga.
Hasilnya, korban memang memiliki riwayat sakit jantung dan pernah dirawat di rumah sakit sekitar setahun lalu.
Ia juga menjelaskan bahwa kericuhan massa dan aparat kepolisian berpusat di Bundaran Gladak.
Kawasan Pasar Gede bukan titik benturan, namun gas air mata yang ditembakkan terbawa angin hingga ke Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Urip Sumoharjo, dan kawasan Pasar Gede.
“Itu yang membuat banyak warga di Pasar Gede ikut merasakan sesak napas,” tambahnya.
Selain itu, sejumlah massa juga sempat membakar barang bekas di kawasan Warung Pelem. Situasi sempat mencekam, sebelum akhirnya mulai kondusif menjelang tengah malam.
Salah seorang pedagang buah Pasar Gede, Agus, 39, mengaku kehilangan sosok Sumari.
Dia menyebut almarhum sudah bertahun-tahun mangkal di Pasar Gede.
“Beliau biasanya tidur di sisi barat pintu utama Pasar Gede, karena rumahnya jauh. Kalau tukang becak yang rumahnya dekat biasanya pulang, tapi yang jauh seperti Pak Sumari lebih memilih tidur di becaknya,” ujar Agus.
Baca Juga: Pengerusakan Fasilitas Umum di Sragen, ATM Bank Jateng dan Pos Depan DPRD Sragen dirusak
Agus menambahkan, keseharian Sumari dikenal ramah dan suka membantu pedagang. Banyak pedagang menitipkan barang belanjaan untuk diantarkan ke pembeli.
“Orangnya sederhana, pekerja keras, dan nggak neko-neko. Kami kaget begitu dengar kabar beliau meninggal,” imbuhnya.
Kabar duka itu juga membuat sesama pengayuh becak berkumpul di sekira lokasi Sabtu (30/8) pagi.
Mereka mengaku kehilangan sosok yang sudah seperti keluarga sendiri.
“Kami sering mangkal bareng. Kalau ada yang sakit, biasanya teman-teman becak saling membantu. Pak Sumari itu sering bercanda sama teman-teman. Kami benar-benar kehilangan,” ujar Suyatno, salah seorang tukang becak lainnya. (atn/nik)
Catatan redaksi:
Judul berita di atas awalnya ditulis:
'Solo Berduka, Gas Air Mata Diduga Penyebab Kematian Tukang Becak'.
Kemudian dilakukan ralat dengan judul berita terbaru:
'Punya Riwayat Jantung, Tukang Becak di Pasar Gede Solo Meninggal Dunia saat Pecah Kerusuhan'.
Editor : Niko auglandy