RADARSOLO.COM — Pemkot Solo mulai menimbang langkah baru dalam menghidupkan kembali daya tarik pasar tradisional.
Salah satunya, dengan memanfaatkan area pasar yang selama ini belum terpakai untuk dijadikan pusat kuliner dan kegiatan UMKM malam hari.
Langkah ini diharapkan bisa menghadirkan suasana baru di pasar-pasar tradisional, sekaligus mendorong geliat ekonomi masyarakat tanpa mengganggu aktivitas jual-beli pada siang hari.
Kabid Sarana Distribusi dan Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Solo Joko Sartono, membenarkan rencana tersebut.
Dia menyebut sejumlah area di pasar tradisional berpotensi dimanfaatkan secara optimal dengan konsep multifungsi.
“Ada rencana pemanfaatan. Pagi sampai sore tetap untuk aktivitas berdagang seperti biasa, tapi malam bisa dimanfaatkan untuk kegiatan baru seperti UMKM dan kuliner,” terang Joko, Senin (6/10).
Menurutnya, pemkot saat ini tengah melakukan pendataan ulang terhadap ruang atau area yang bisa dioptimalkan. Nantinya, dinas akan menghitung potensi usaha, termasuk besaran nilai sewa atau retribusi yang akan menjadi tambahan Pendapatan Asli Daerah
(PAD).Beberapa lokasi sudah masuk dalam radar dinas perdagangan, seperti lantai dua Pasar Gede, Pasar Jebres, dan Pasar Singosaren, yang dinilai cocok untuk dijadikan pusat kuliner malam.
“Konsepnya seperti itu. Pemerintah kota bisa dapat tambahan PAD dari sistem sewa atau retribusi pedagang oprokan dan kaki lima,” ujarnya.
Selain tiga pasar tersebut, Pemkot juga melirik lantai atas Pasar Jongke, Pasar Ayu (Balapan), dan Pasar Kembang sebagai calon lokasi potensial.
Menurut Joko, area lantai atas di beberapa pasar itu masih sepi dan belum termanfaatkan secara maksimal.
“Bisa untuk kedai kopi, kuliner, dan kegiatan komunitas. Bahkan Elpabes juga kami pikirkan, mungkin area belakangnya bisa dijadikan pusat kuliner. Tapi ini masih tahap ide,” jelasnya.
Sementara itu, Wali Kota Solo Respati Ardi menegaskan, langkah ini merupakan bagian dari upaya modernisasi pasar tradisional tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal.
Pemkot ingin pasar tradisional bukan hanya tempat jual-beli konvensional, tapi bisa tampil lebih modern, jadi daya tarik baru, dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
Dengan konsep ini, Pemkot Solo berharap wajah pasar tradisional ke depan bukan sekadar tempat belanja kebutuhan harian, tapi juga ruang sosial, kuliner, dan hiburan yang hidup hingga malam hari.
“Ini langkah konkret menuju pasar tradisional yang lebih moderen dalam transaksi keuangan namun tetap menjaga kearifan lokal,” ucap Respati (ves/nik)
Editor : Niko auglandy