RADARSOLO.COM - Suasana berbeda terlihat di sebuah kedai kopi di Jalan Ronggowarsito No. 16, Kelurahan Kampung Baru, Pasar Kliwon, Solo. Di kedai kopi itu, barista hingga pramusajinya merupakan penyandang tuli. Tak heran kedai yang baru seumuran jagung itu dinamai Kawan Tuli Coffee & Space.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di kedai itu, pengunjung langsung disambut papan nama besar bertuliskan ‘Kawan Tuli Coffee & Space’. Papan nama ini yang membuat pengunjung penasaran untuk datang, sembari menikmati olahan kopi di kedai mungil tersebut.
Begitu memasuki ruangan, pengunjung disambut senyum hangat dan gestur ramah khas teman tuli. Ada sudut baca, tempat duduk menghadap jalan, dan suasana santai yang membuat siapa pun betah berlama-lama.
Yang menarik, pada masa soft opening, proses pemesanan sengaja tidak dibuat terlalu mudah.
“Tujuannya bukan untuk mempersulit,” jelas Florentino Bintang, 29, co-founder sekaligus penanggung jawab Kawan Tuli Coffee & Space kepada Jawa Pos Radar Solo.
Masuk ke dalam ruangan, senyum hangat dari barista dan pramusaji menjadi ciri khas yang selalu ada. Pengunjung dipersilakan duduk di tempat yang mereka suka. Baik yang langsung menghadap ke jalan raya, maupun di sudut-sudut cozy lainnya.
“Kami ingin mengenalkan pengalaman berinteraksi langsung dengan teman tuli. Dari situ, pengunjung bisa belajar cara baru untuk berkomunikasi, dan teman tuli juga bisa melatih cara berinteraksi dengan pelanggan umum,” imbuhnya.
Perjalanan merintis Kawan Tuli Coffee & Space bermula dari program Kawan Tuli Barista Training Program. Program pelatihan barista ini digagas Bintang dan Windri Rusli, dengan didukung British Council pada 2024.
Program dilaksanakan dengan kolaborasi antara Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Solo, Deaf Volunteer Organisation, serta pelaku usaha kopi lokal. Hasilnya, lahir modul pelatihan barista yang disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya belajar teman tuli.
Namun setelah program selesai, muncul satu pertanyaan: “Setelah pelatihan, lalu apa?”
Dari kegelisahan itu, Bintang dan Windri kemudian membangun Kawan Tuli Coffee & Space. Sebuah langkah lanjutan yang tidak lagi berbentuk pelatihan, melainkan wadah kerja nyata dan tempat praktik berkelanjutan.
Berbeda dari program sebelumnya yang fokus pada pelatihan, Kawan Tuli Coffee & Space merupakan inisiatif mandiri yang dijalankan sepenuhnya oleh tim internal. Di sini, teman tuli tidak hanya belajar membuat kopi, tapi juga mengelola jadwal kerja, berkomunikasi dengan pelanggan, hingga mengasah kemampuan pelayanan.
“Bisa dibilang ini tahap lanjutannya. Jika sebelumnya mereka belajar di ruang kelas, sekarang mereka belajar langsung di dunia kerja, dengan ritme dan tantangannya tersendiri,” ujar Bintang.
Kini, Kawan Tuli Coffee & Space terus tumbuh sebagai collaboration space. Tempat di mana masyarakat dan teman tuli bisa saling belajar lewat aktivitas sehari-hari. Tidak ada jarak dan tidak ada peran yang lebih tinggi. Semua bertemu di meja kopi yang sama.
“Yang kami bangun bukan coffee shop, namun kebiasaan baru, yakni saling berinteraksi,” beber Bintang.
Bagi teman tuli yang magang, ruang ini menjadi tempat berlatih sekaligus membangun kepercayaan diri. “Di sini saya bukan cuma bikin kopi, tapi juga belajar menghadapi pelanggan,” ujar Galih Saputro, teman tuli yang magang barista dengan bahasa isyarat.
Sementara itu, Kawan Tuli Coffee & Space bisa jadi pilihan untuk melepas kepenatan dari rutinitas kerja. Seperti dilakukan Meika Hapsari dan Sarah Adelia, dua aparatur sipil negara (ASN) Pemkot Solo yang sengaja sempat mampir selepas kerja.
“Awalnya bingung karena belum tahu bahasa isyarat, tapi lama-lama terbiasa. Suasananya enak, kopinya juga pas,” ujar Meika. (ves/fer)
Editor : Niko auglandy