RADARSOLO.COM – Nasib pilu dialami Sugiman, penjaga sekolah di SD Negeri Sumber 1, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo.
Rumah dinas yang dia tempati mengalami kerusakan parah setelah sebagian atapnya jebol pada akhir bulan lalu.
Pantauan di lokasi menunjukkan kondisi bangunan sudah tidak layak huni.
Di ruang tengah dan kamar, genting dan usuk kayu lapuk serta berlubang di beberapa titik. Akibatnya, Sugiman terpaksa mengungsikan anak-anaknya demi menghindari risiko kerusakan susulan.
“Kalau renovasi total belum pernah. Paling hanya tambal sulam, ganti usuk dan reng atap. Tapi karena kayunya banyak dimakan rayap, ya jadi seperti ini,” ujar Sugiman, Senin (3/11).
Pria yang telah bertugas sebagai penjaga sekolah sejak 2008 itu menuturkan, bagian atap rumahnya roboh saat ia berangkat salat subuh ke masjid. Saat kejadian, istrinya, anak, dan keponakannya masih berada di dalam rumah.
“Saya sudah di masjid duluan. Tiba-tiba atap di dalam rumah runtuh. Padahal malam sebelumnya hujan deras, tapi subuh itu cuacanya biasa saja,” ungkapnya.
Kejadian tersebut sudah dilaporkan ke pihak sekolah dan diteruskan ke Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo.
Untuk sementara, Sugiman dan istrinya menempati bekas gudang di belakang rumah yang hanya memiliki satu ruangan.
“Atas saran kepala sekolah, saya menempati gudang dulu. Meski cuma sekamar, saya tetap bertanggung jawab menjaga sekolah,” katanya.
Baca Juga: Pemakaman Raja Kraton Solo Pakubuwono XIII Dipilih Rabu, Ternyata Karena Alasan Filosofis Ini
Sugiman mengaku, meski bangunan sekolah sudah beberapa kali direnovasi, rumah dinas penjaga sekolah belum pernah tersentuh perbaikan total sejak puluhan tahun lalu.
“Dulu memang sempat dianggarkan, tapi hanya untuk tambal sulam atap, bukan renovasi total. Karena rumah ini milik pemerintah, saya tempati apa adanya. Kalau ada kerusakan ya lapor ke kepala sekolah,” jelasnya.
Dia berharap pemerintah kota bisa memberikan perhatian terhadap kondisi rumah dinas penjaga sekolah.
“Kalau nggak ada penjaga kan repot juga. Memang penjaga sekolah itu pegawai paling bawah, tapi perannya penting. Guru bekerja delapan jam, kami bekerja 24 jam,” pungkasnya. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy