Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Hanya Sebulan Patuhi SE Walikota, Bajaj Maxride Kembali Mengaspal di Solo

Antonius Christian • Minggu, 23 November 2025 | 00:13 WIB
Armada Bajaj Maxride yang kembali beroperasi di Kota Solo, Minggu (22/11/2025).
Armada Bajaj Maxride yang kembali beroperasi di Kota Solo, Minggu (22/11/2025).

RADARSOLO.COM- Operasional Bajaj Maxride di Kota Solo terhenti sekitar satu bulan menyusul terbitnya Surat Edaran (SE) Walikota Solo yang melarang operasional roda tiga itu.

Namun kini, Bajaj Maxride kembali terlihat beroperasi di sejumlah titik kota.

Regional Manager Maxauto Maxride DIY–Jawa Tengah Bayu Subolah menjelaskan, keberadaan Maxride di Solo bukan hanya soal bisnis, tetapi juga tentang dampak sosial yang bisa dirasakan masyarakat.

“Kami hadir di Solo membawa kebermanfaatan sosial,” ujar Bayu.

Menurutnya, di banyak kota seperti Makassar, Medan, dan Jogja, Maxride berfokus memberi kesempatan kerja baru bagi pengemudi becak dan sopir angkot yang semakin sulit mendapatkan penumpang.

Bayu menyebut sebagian pengemudi Maxride adalah eks tukang becak, sopir angkot, dan sebagian kecil dari kalangan ojek online.

Terkait kelayakan kendaraan yang sempat dipertanyakan, Bayu menegaskan bahwa unit Bajaj Maxride sudah memiliki Surat Registrasi Uji Tipe (SRUT).

“SRUT itu menunjukkan unit kami layak jalan. Dari sisi penumpang juga sudah ada asuransi Jasa Raharja yang ter-cover,” jelasnya.

Ke depan, Maxride juga berencana menggandeng asuransi tambahan serta BPJS Ketenagakerjaan untuk perlindungan pengemudi.

“Setelah tanda tangan MoU dengan BPJS di Solo, driver-driver kami akan langsung kami daftarkan,” katanya.

Diakui Bayu, Bajaj Maxride kembali beroperasi mulai Sabtu (22/11/2025), karena beberapa pengemudi telah memperbarui dokumen sebagai syarat kendaraan berpelat hitam yang digunakan sebagai angkutan aplikasi.

“Saat ini ada sekitar 20 driver. Jumlahnya dinamis karena permintaan terus bergerak. Kalau akhir tahun ini realistisnya mungkin ada tambahan 50 sampai 100 unit,” katanya.

Baca Juga: Cara Pasang Status Tentang atau About di WhatsApp: Fitur Jadul yang Kini Hadir Lebih Menarik, Mirip Instagram Notes

Pada sisi finansial, Bayu menyebut investasi Bajaj cukup menjanjikan, baik bagi pengemudi maupun pemilik armada (juragan).

Jika juragan membeli unit seharga sekitar Rp 50 juta, penghasilan rata-rata per bulan disebut bisa mencapai Rp 3 juta, sehingga modal bisa kembali dalam waktu kurang dari satu tahun.

Lalu bagaimana dengan SE wali kota yang melarang operasional Bajaj di Solo?

Bayu menegaskan bahwa Maxride akan melakukan pendekatan persuasif.

“Kami akan berupaya mengadakan audiensi dengan Pak Wali Kota dan para pejabat terkait. Driver-driver kami juga siap hadir. Kami ingin menyampaikan bahwa jika SE ini terus diperpanjang, banyak potensi kehilangan pendapatan bagi warga Solo sendiri,” ungkapnya.

Maxride juga meminta adanya perlakuan adil terkait aturan moda transportasi online berpelat hitam.

“Kalau mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12, kendaraan kami sebenarnya bisa beroperasi sebagai angkutan aplikasi berpelat hitam. Kalau memang harus plat kuning, kami minta keadilan dan aturan yang jelas,” tambahnya.

Maxride juga membuka ruang komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk komunitas ojek online lain di Solo.

“Minggu ini kami mulai komunikasi lagi dengan ojol-ojol yang ada. Semua bisa dibicarakan,” ujar Bayu.

“Beberapa driver adalah mantan pengayuh becak. Ada yang sudah sepuh dan tidak kuat lagi mengayuh. Mereka bahagia ketika dapat unit yang tidak perlu menguras tenaga,” lanjut dia.

Bayu berharap Pemkot Solo membuka ruang dialog yang lebih luas agar dampak sosial yang diharapkan Maxride bisa benar-benar dirasakan warga, bukan terhenti karena regulasi yang belum menemukan titik temu. (atn)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#operasional #larangan #solo #Bajaj Maxride #kembali beroperasi #SE Walikota