RADARSOLO.COM - Tak banyak yang tahu. Di balik kukuhnya bangunan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Kampus II Mojosongo, berdiri sebuah pagoda tua yang menyimpan banyak cerita.
Tersembunyi di antara gedung perkuliahan dan pepohonan rimbun, pagoda itu menjadi saksi bisu perubahan zaman di Kota Bengawan.
Tidak banyak publik mengetahui bahwa kawasan kampus ISI dulunya merupakan kompleks pemakaman Tionghoa, seperti halnya yang terjadi di kawasan kampus UNS.
Seiring waktu, lahan tersebut dijual dan beralih kepemilikan kepada pihak ISI. Sebagian makam dipindahkan ke Delingan, Karanganyar, sebagian lainnya dikremasi, bahkan dilarung ke Sungai Bengawan Solo.
Pagoda tersebut bukan tempat ibadah. Berdiri sebagai simbol makam leluhur. Di sekelilingnya masih dijumpai sejumlah nisan Tionghoa yang telah hancur dimakan usia. Bangunannya diperkirakan telah berdiri lebih dari 70 tahun, bahkan diyakini berasal dari abad ke-19.
Kabid Pelestarian Kawasan dan Bangunan Cagar Budaya DTRK Solo Mufti Rahardjo membenarkan bahwa pagoda tersebut telah ditetapkan sebagai bagian dari cagar budaya.
“Itu bagian dari tata kota pada tahun 1850-an,” paparnya.
Keberadaan pagoda itu juga tak lepas dari kabar mistis yang beredar di kalangan mahasiswa. Penampakan anak kecil berbusana Tionghoa hingga bola api disebut-sebut kerap muncul di area sekitar pagoda. Cerita itu berkembang dari mulut ke mulut dan menambah aura misteri pada bangunan bersejarah tersebut.
Seorang petugas kebersihan Kampus II ISI Solo menyebut pagoda tersebut kini dikelola Pemerintah Kota Solo.
“Kami hanya membersihkan area sekitar. Untuk informasi lebih detail belum banyak yang mengetahui,” ujarnya singkat.
Pagoda tua yang tersembunyi di tengah lingkungan kampus seni ini menjadi bukti kekayaan sejarah Tionghoa di Solo. Perpaduan nilai sejarah, seni arsitektur, dan nuansa mistis menjadikannya destinasi alternatif menarik bagi pecinta heritage dan penyuka wisata horor. (mg2/rei/JPG/nik)
Editor : Niko auglandy