Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Dari Sragen ke Laweyan, Ratu Maxima Mendengar Langsung Mimpi Pengerajin Batik Solo tentang Inklusi Keuangan

Silvester Kurniawan • Rabu, 26 November 2025 | 01:50 WIB

Ratu Kerajaan Belanda Maxima belajar membatik di Kampung Batik Laweyan, Selasa (26/11). (Humas Pemkot Solo)
Ratu Kerajaan Belanda Maxima belajar membatik di Kampung Batik Laweyan, Selasa (26/11). (Humas Pemkot Solo)

RADARSOLO.COM—Suasana di Kampung Wisata Batik Laweyan, Solo, terasa berbeda pada Selasa (25/11/2025) sore. Setelah merampungkan kunjungan ke pabrik tekstil di Sragen, Ratu Maxima dari Belanda, yang juga merupakan Penasihat Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Inklusi Keuangan Pembangunan (UNSGSA), tiba di jantung industri batik Solo.

Dalam kunjungannya yang sarat makna itu, Ratu Maxima tidak hanya sekadar melihat-lihat. Istri Raja Belanda Willem Alexander tersebut berinteraksi langsung dan bertukar pikiran mengenai isu krusial: kesehatan dan literasi keuangan masyarakat akar rumput.

Baca Juga: Generasi di Panggung Sunyi: Kisah Haru Dian Primadyka dan Sang Guru, Endoh, yang Dipertemukan di Jakarta Pantomime Festival

Ratu Maxima menyempatkan diri menengok sejumlah rumah produksi dan berinteraksi hangat dengan para pengerajin setempat. Ia mendengarkan cerita kehidupan mereka, memahami bagaimana seni tradisional ini menjadi tumpuan ekonomi.

“Saya mendapat kesempatan untuk berbicara dengan berbagai kelompok. Ada pekerja industri garmen, mahasiswa, serta kelompok ibu-ibu yang luar biasa membuat batik untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka,” kata Ratu Maxima, menunjukkan fokusnya pada perjuangan ekonomi rumah tangga.

Baca Juga: Kesejahteraan Guru Belum Merata, Komisi IV DPRD Sragen Minta Maaf

Maxima menegaskan, kunjungannya ke Sragen dan Solo ini dilakukan dalam rangka mempelajari kondisi finansial masyarakat dari berbagai latar belakang. Ia ingin tahu bagaimana mereka memenuhi kebutuhan harian, menghadapi keadaan darurat, hingga merencanakan masa depan—seperti pembelian hunian atau persiapan pensiun.

Tinjauan lapangan yang didapat Ratu Maxima dari para pekerja pabrik dan pengerajin batik Laweyan ini akan menjadi data berharga. Hasilnya, kata Maxima, akan didiskusikan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia, kementerian terkait, dan berbagai pihak lain termasuk perusahaan Fintech (teknologi finansial).

Baca Juga: Kota Solo Sambut Libur Akhir Tahun dengan Rekomendasi Destinasi

Tujuannya mulia, yaitu merumuskan produk dan kebijakan keuangan yang lebih inklusif dan relevan bagi masyarakat.  Meskipun mengapresiasi kemajuan Indonesia, Ratu Maxima memberikan catatan penting.

“Indonesia telah mencapai inklusi keuangan dengan lebih dari 80 persen masyarakat sudah memiliki akses ke rekening bank,” pujinya. Namun, ia menekankan bahwa pencapaian ini belum final.

Baca Juga: Siapkan Anggaran Rp 5 Miliar Untuk Hadapi Bencana Alam, Catat Ada Ratusan Bencana Sepanjang Tahun 2025

“Namun, akses saja tidak cukup. Yang penting adalah bagaimana kita dapat membantu lebih jauh. Bukan hanya untuk melakukan pembayaran, tetapi juga untuk mewujudkan impian mereka,” tegas Ratu Maxima.

Baca Juga: Mengenal Mikrobiota Usus dan Perannya bagi Kesehatan Kita Sehari-hari

Pernyataan ini menggarisbawahi esensi kunjungannya: Inklusi keuangan sejati bukan hanya tentang membuka rekening, melainkan memberdayakan masyarakat agar mereka memiliki literasi, produk, dan kesempatan finansial untuk merencanakan masa depan yang lebih baik. Melalui selembar batik di Laweyan, Ratu Maxima membawa misi PBB untuk menghubungkan kesulitan ekonomi pengerajin dengan solusi finansial global. (ves/bun)

Editor : Kabun Triyatno