RADARSOLO.COM — Operasi Zebra Candi 2025 yang digelar Polresta Solo mulai menunjukkan hasil nyata. Dalam dua pekan pelaksanaan razia, ratusan pengendara terjaring tilang akibat pelanggaran lalu lintas yang berpotensi membahayakan keselamatan berkendara.
Razia terakhir digelar di kawasan Plaza Manahan dengan menyasar pengendara roda dua dan roda empat.
Pemeriksaan dilakukan menyeluruh mulai dari kelengkapan surat kendaraan, penggunaan helm standar, kepatuhan memakai sabuk keselamatan, hingga pengecekan perangkat kendaraan ilegal seperti knalpot brong.
Berdasarkan pantauan di lokasi, tak sedikit pengendara yang akhirnya harus menerima surat tilang karena melanggar aturan.
Kabagops Polresta Surakarta Kompol Engkos Sarkosi mengungkapkan bahwa selama 13 hari pelaksanaan operasi, sebanyak 404 pelanggaran tercatat.
“Total 404 pengendara sudah kami tindak selama 13 hari operasi. Ini angka yang cukup tinggi dan menunjukkan bahwa masih banyak masyarakat yang mengabaikan keselamatan,” ujar Engkos.
Baca Juga: Link Cara Cek BLT Kesra 2025 Rp900 Ribu Lewat HP, Ada 7 Juta Data Calon Penerima Masih Diverifikasi
Mayoritas pelanggaran didominasi pengendara motor tanpa helm, penggunaan knalpot brong, serta pengemudi mobil yang tidak memakai sabuk keselamatan.
Selain menindak pelanggar, Polresta Solo juga memberikan reward berupa tumbler gratis untuk pengendara yang dinilai lengkap dan tertib.
Menurut Engkos, pola reward and punishment diperlukan agar kesadaran masyarakat tidak hanya terbentuk karena razia, tetapi lahir dari kesadaran.
“Yang tertib mendapat apresiasi agar menjadi contoh bagi yang lain. Sedangkan yang melanggar kami tindak tegas. Budaya keselamatan tidak bisa setengah-setengah,” terangnya.
Pembagian tumbler diberikan langsung oleh Wali Kota Solo Respati Achmad Ardianto didampingi Kapolresta Kombes Pol Catur Cahyono Wibowo.
Pengendara yang memenuhi semua aspek keselamatan langsung menerima suvenir usai pemeriksaan.
Respati menilai apresiasi tersebut merupakan bagian dari kampanye membangun budaya tertib lalu lintas di Kota Solo.
Dia menyebut tingkat kepatuhan pada pagi hari mulai menunjukkan peningkatan, terutama bagi masyarakat yang berangkat bekerja atau mengantar anak sekolah.
“Kesadaran pada pagi hari cukup baik dan ini apresiasi bagi warga. Tetapi budaya tertib harus menyeluruh, bukan hanya di pagi hari,” jelasnya.
Baca Juga: Presiden Prabowo Tinjau Titik Lokasi Bencana Banjir di Sumut, Cek Langsung Penanganan di Lapangan
Meski begitu, Respati menegaskan masih banyak pelanggaran terjadi pada malam hari, terutama penggunaan knalpot brong dan aksi ugal-ugalan yang meresahkan warga maupun wisatawan.
“Kami tidak memberikan ruang untuk aksi ugal-ugalan di Solo. Laporan dari warga cukup banyak dan semuanya akan ditindak tegas bersama Polresta dan Dishub,” tegasnya. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy