RADARSOLO.COM - Melangkah masuk ke sebuah sudut rumah sederhana di kawasan Bratan, Laweyan, Kota Solo, kita seolah terlempar ke dekade 90-an hingga awal 2000-an. Di dalam etalase kaca yang tertata rapi, berjejer raut familiar dari masa lalu: Nokia "pisang", Sony Ericsson yang ikonik, Motorola lipat yang mewah, hingga Blackberry keypad yang pernah menjadi primadona komunikasi.
Semua adalah milik Krisna Indra Lesmana, 35, seorang pria yang di balik seragamnya sebagai staf bus dan angkutan umum di Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo, menyimpan panggilan jiwa sebagai penjual sekaligus kolektor HP jadul.
Meski hari-harinya sibuk dengan urusan transportasi publik, Krisna selalu menyempatkan waktu untuk merawat sekitar 100 unit HP jadul koleksinya. Sejak 2017, kuas dan lap menjadi senjatanya membersihkan layar monokrom maupun keypad fisik dari debu waktu.
Koleksi Krisna hampir mencakup semua merek yang pernah berjaya di zamannya, dari Nokia yang bandel hingga Samsung model klasik.
“Hobi ini awalnya karena suka. Dulu sering mengumpulkan HP bekas saya beli di pasar loak. Lama-lama kok koleksi saya banyak. Akhirnya saya coba jualan,” ujarnya tersenyum, Minggu (30/11), mengenang titik awal pengabdiannya.
HP jadul di etalasenya dipatok dengan harga yang sangat beragam, mulai dari Rp70 ribu untuk unit yang umum hingga Rp1,5 juta untuk barang langka dengan kondisi prima.
Namun, ia mengaku berjualan HP jadul kini adalah perjuangan sunyi. Penjualannya tak secepat smartphone terbaru. “Dalam sebulan kadang cuma laku satu atau dua unit. Kadang malah tidak ada yang laku sama sekali,” tutur Krisna tanpa nada putus asa, menunjukkan keikhlasan di balik usahanya.
Bagi Krisna, usaha ini adalah cara untuk merawat kenangan. Sebagian pembeli memang ingin bernostalgia, sebagian lain benar-benar membutuhkan HP sederhana untuk orang tua yang kesulitan menggunakan Android.
Tetapi ada pula alasan yang unik. “Ada yang beli untuk memancing burung. Jadi HP ditinggal di hutan buat memancarkan suara pemikat burung,” katanya sembari tertawa geli.
Meski pembeli datang dari berbagai latar belakang, tantangan terbesar Krisna bukan soal sepinya minat, melainkan ketersediaan sparepart. Banyak perangkat lama yang layarnya rusak, keypad-nya mati, atau baterai bengkak, tetapi komponen penggantinya sudah punah.
“Susah sekali cari sparepart sekarang. Banyak yang sudah langka. Kadang harus beli unit rusak untuk mreteli sparepart-nya,” jelasnya, menggambarkan perjuangan ekstra kolektor sepertinya.
Selain menjual secara daring, Krisna aktif di Komunitas HP Jadul Solo (Kohajas). Melalui komunitas ia mendapat dukungan moral, pengetahuan teknis, dan kesempatan berburu barang langka. Sayangnya, penjualan secara offline di Solo sudah sepi peminat; pembeli kini lebih banyak datang dari luar kota, bahkan luar pulau.
Meskipun usaha ini tidak menghasilkan pemasukan besar, Krisna tidak pernah berpikir menghentikannya. Baginya, setiap HP jadul punya cerita dan jiwa. Membersihkan, memperbaiki, dan menjualnya adalah bagian dari menjaga kenangan yang pernah hidup.
“Rasanya senang kalau ada yang menemukan kembali HP yang dulu pernah ia pakai,” ucapnya, sebuah kebahagiaan sederhana dari seorang staf dishub yang menemukan takdirnya sebagai penjaga memori digital di Kota Solo. (alf/bun)
Editor : Kabun Triyatno