RADARSOLO.COM – Dua tokoh kunci dalam polemik suksesi Kasunanan Kasunanan Surakarta, KGPH Purbaya dan KGPH Mangkubumi, kembali bertemu dalam suasana damai di Masjid Agung Solo saat salat Jumat kemarin (5/12).
Meski keduanya sama-sama diklaim sebagai penerus sah PB XIII oleh kubu berbeda, pertemuan keduanya berlangsung hangat dan penuh unggah-ungguh.
Usai salat Jumat, Purbaya—yang pada 15 November lalu ditasbihkan sebagai SISKS Paku Buwono (PB) XIV—menghampiri kakaknya, Mangkubumi, yang duduk di sisi selatan mimbar. Keduanya bertegur sapa dengan gestur khas keluarga keraton sebelum berjabat tangan dan bertukar obrolan singkat, lalu berpisah meninggalkan masjid.
“Ya biasa saja. Kalau Jumat saya salat di sini, kalau ketemu ya biasa, dia juga kakak saya. Saya ya nggak gimana-gimana,” ujar Purbaya.
Purboyo mengakui dirinya memang jarang berjumpa dengan sang kakak karena lebih banyak tinggal di Jogjakarta untuk menempuh studi S2 politik dan pemerintahan di UGM. Sementara Mangkubumi lebih banyak beraktivitas di Solo.
“Ya biasa saling sapa. Dia kan di Solo, saya di Jogja. Jadi memang jarang ketemu,” katanya.
Karena kesibukan kuliah itulah Purbaya mengaku tidak mengetahui undangan pertemuan antara Mahamenteri Tedjowulan dan Mangkubumi beberapa waktu lalu.
“Undangan apa? Ora ngerti, mas. Aku kuliah nang Jogja. Saya nggak tahu! Saya kan masih semester 1, kalau kuliahnya saya tinggal gimana? Nanti nek di-DO, gimana?” selorohnya.
Terkait peringatan 40 hari wafatnya PB XIII Hangabehi, Purbaya menyebut kegiatan akan berlangsung seperti tradisi sebelumnya.
“Empat puluh hari ya pasti doa bersama,” tegasnya.
Hampir di waktu bersamaan, KGPH Mangkubumi—yang digadang sebagai PB XIV versi Lembaga Dewan Adat (LDA)—juga menyampaikan hal serupa. Menurutnya, agenda 40 hari masih menunggu pembahasan keluarga besar.
“Ya itu yang akan dilaksanakan, tetapi menunggu dari keluarga,” ujarnya.
Saat ditanya isi pembicaraannya dengan sang adik di kompleks masjid, Mangkubumi menjawab singkat. “Ya silaturahmi saja, seperti biasa. Sae-sae,” tuturnya.
Pertemuan singkat ini menjadi momen langka di tengah tarik-menarik legitimasi tahta yang sedang berlangsung, menunjukkan bahwa komunikasi keluarga tetap terjaga meski dinamika internal keraton masih berproses. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno