RADARSOLO.COM – Harga cabai rawit menjelang Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) di pasar tradisional tidak kunjung turun. Mengatasi keresahan masyarakat, pemkot menggencarkan gerakan pangan murah (GMP).
Wakil Wali Kota (Wawali) Solo Astrid Widayani mengatakan, gerakan pangan murah (GMP) merupakan upaya rutin pemkot untuk menjaga stabilitas pasokan dan mencegah lonjakan harga. Meski secara umum harga terkendali, wawali mengakui adanya dinamika kenaikan harga cabai rawit dalam beberapa pekan terakhir yang menimbulkan keresahan masyarakat dan pelaku usaha kuliner.
“Gerakan pangan murah adalah upaya untuk menjamin kecukupan dan mencegah lonjakan harga komoditas pangan strategis,” kata Astrid usai memantau GPM di halaman Kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Solo, Senin (15/12).
Harga cabai rawit merah di Pasar Legi Solo, misalnya, sempat mencapai Rp 80 ribu per kg, sebelum turun menjadi Rp 75 ribu per kg pekan lalu. Meskipun sudah ada gelontoran 5 kuintal cabai yang menekan harga menjadi Rp 65 ribu per kg, harga di pasar tradisional lain, seperti Pasar Jongke, masih berada di kisaran Rp70 ribu per kg pada awal pekan ini.
“Harga cabai Rp70 ribu per kg di Pasar Jongke, cabai rawit merah. Lumayan tinggi kalau dari harga normalnya,” keluh Risnawati, seorang pedagang kuliner.
Untuk menekan lonjakan harga, GPM menjual sejumlah bahan pangan di bawah harga pasaran saat ini, antara lain beras 5 kg seharga Rp 65 ribu, gula pasir Rp16 ribu, minyak goreng 800 mililiter Rp 15 ribu. Kemudian nawang merah dan putih 0,25 kg tembus Rp12 ribu dan cabai rawit kini sudah tembus Rp 70 ribu.
“Intervensi penyediaan pasokan akan terus dilakukan secara intensif untuk menekan harga, terutama di masa konsumsi tinggi jelang Nataru,” ujar dia. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno