RADARSOLO.COM - Rencana penataan Koridor Nonongan atau Jalan Yos Sudarso kembali mendapat sorotan dari kalangan akademisi. Pakar Tata Kota Universitas Sebelas Maret (UNS) Kusumaningdyah Nurul Handayani menegaskan, revitalisasi kawasan tersebut tidak boleh dilakukan secara instan apalagi sekadar mengejar tampilan fisik.
Menurut Rully, langkah paling mendasar sebelum masuk ke desain dan konstruksi adalah studi kelayakan yang benar-benar komprehensif, yang membaca kawasan bukan hanya sebagai ruas jalan, tetapi sebagai ruang hidup kota.
“Potensi koridor harus dilihat dari penggunaan lahannya, sejarah yang membentuknya, sampai perannya sebagai penghubung pusat Kota Solo dengan Sukoharjo. Itu semua menentukan karakter kawasan,” ujar perempuan yang akrab disapa Rully, Selasa kemarin (13/1).
Ia mengingatkan, pendekatan teknokratis semata berisiko menghilangkan ruh kawasan. Penataan kota, kata dia, harus melibatkan berbagai disiplin ilmu, mulai dari perencanaan wilayah dan kota, sejarah, hingga sosiologi.
“Tidak bisa hanya PWK (perencanaan wilayah dan kota) yang bicara. Harus ada sejarawan, sosiolog, dan pemetaan sosial. Di Nonongan itu ada sejarah akses, ada kuliner, ada kehidupan warga. Semua itu justru aset yang harus diangkat, bukan dihapus,” tegasnya.
Rully mencontohkan pengalaman saat terlibat dalam perancangan kota di kawasan Malioboro, Jogjakarta. Saat itu, timnya bahkan harus mengkaji makna motif budaya agar tidak salah tafsir dalam penerapan desain ruang publik.
“Motif kawung, misalnya, tidak boleh sembarangan dipasang di lantai karena punya makna filosofis tertentu. Kalau tidak paham, niat memperindah justru bisa menjadi kesalahan,” katanya.
Ia menilai revitalisasi Malioboro bisa menjadi rujukan penting bagi Solo. Penataan kawasan tersebut dilakukan melalui proses panjang yang menggali sejarah, fungsi ruang, hingga relasi sosial masyarakat di sekitarnya.
“Malioboro tidak hanya ditata sebagai koridor jalan, tetapi juga kampung-kampung di belakangnya. Pemetaan sosial dan infrastrukturnya dilakukan bersamaan. Itu yang membuatnya kuat,” jelas Rully.
Menurutnya, penataan Koridor Nonongan juga harus berangkat dari visi bersama, bukan hanya visi pemerintah. Warga yang tinggal dan berusaha di sepanjang dan di belakang koridor harus dilibatkan sejak awal.
“Kampung di belakangnya seperti apa, aktivitas ekonominya apa, visinya apa. Itu harus dipetakan. Kalau tidak, kawasan yang dibangun bisa terasa asing bagi warganya sendiri,” ujarnya.
Rully menyebut, gagasan mempercantik fasad bangunan dan memberi nuansa tertentu pada koridor memang menarik. Namun, itu harus menjadi bagian dari strategi besar, bukan kosmetik belaka.
Ia juga menekankan pentingnya walkability atau kenyamanan pejalan kaki sebagai kunci menghidupkan kawasan kota.
“Ruang kota akan hidup kalau orang mau berjalan di situ. Mungkin parkir perlu ruang, tapi yang utama adalah konektivitas pejalan kaki. Dari situlah aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya bisa tumbuh,” ujarnya. (alf/bun)
Editor : Kabun Triyatno