Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Sawah Menyusut Drastis, Pemkot Solo Racik Roadmap Urban Farming dan Pusat Persediaan Pangan Modern

Silvester Kurniawan • Rabu, 14 Januari 2026 | 18:13 WIB
Jaminan kebutuhan pangan sangat penting bagi masyarakat. (M Ihsan/Radar Solo)
Jaminan kebutuhan pangan sangat penting bagi masyarakat. (M Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Pemkot Solo menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan di tengah keterbatasan lahan pertanian. Wali Kota Solo Respati Ardi secara tegas memproyeksikan BUMD Pedaringan untuk bertransformasi menjadi lumbung pangan terpadu, mengadopsi kesuksesan Cipinang Food Station milik DKI Jakarta.

Langkah ini diambil guna menjadikan Solo sebagai pengendali stabilitas harga pangan di wilayah regional. Meskipun tidak memiliki lahan pertanian yang luas, Solo membidik peran vital sebagai pusat distribusi dan cadangan pangan guna mengintervensi pasar saat terjadi fluktuasi harga bahan pokok.

"Solo memang tidak punya lahan pertanian yang luas, tetapi kita harus menjadi pengendali stabilitas harga. Kita siapkan Pedaringan sebagai pusat persediaan pangan terpadu melalui kerja sama dengan pihak ketiga," tegas Respati Ardi usai penandatanganan MoU Ketahanan Pangan bersama Pemprov Jawa Tengah, Rabu (14/1/2026).

Respati menilai model bisnis Cipinang Food Station sangat relevan untuk diterapkan di Solo. Sebagai pengelola pasar induk beras terbesar, BUMD Jakarta tersebut terbukti mampu menjaga arus pasokan dan memastikan harga beli di tingkat konsumen tetap terjangkau.

Dengan mengoptimalkan Pedaringan, Pemkot Solo berharap memiliki instrumen yang kuat untuk menimbun cadangan pangan saat panen raya dan menyalurkannya kembali ketika pasokan di pasar mulai menipis. Strategi ini dianggap sebagai solusi paling realistis bagi kota yang didominasi sektor jasa dan perdagangan.

Selain memperkuat BUMD, Respati juga menyoroti kritisnya luas sawah produktif di Solo yang kini hanya menyisakan belasan hektare di wilayah Banjarsari dan Laweyan. Sebagai kompensasi, Pemkot akan menggeber program urban farming atau pertanian perkotaan secara masif.

"Peran Solo adalah memastikan harga di masyarakat terjaga. Saya sudah instruksikan untuk memetakan lahan-lahan tidak produktif guna dijadikan lokasi urban farming. Kita sedang susun roadmap-nya agar Solo tetap memiliki kontribusi dalam swasembada pangan," beber Respati.

Sinergi antara penguatan logistik melalui Pedaringan dan kemandirian pangan lewat urban farming diharapkan mampu membentengi warga Solo dari ancaman inflasi pangan. Pemkot kini mulai membuka keran investasi bagi pihak swasta yang berminat berkolaborasi mengelola pusat distribusi pangan modern di Kota Bengawan. (ves/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#pangan #pertanian #urban farming #Pedaringan #pemkot solo #stabilitas