RADARSOLO.COM-Pro dan kontra para pedagang mewarnai upaya pemkot menghidupkan kembali area mati suri di 11 pasar tradisional dengan skema penyewaan aset kepada pihak ketiga.
Bagi sebagian pedagang, rencana pemanfaatan lantai dua dan sudut-sudut pasar yang selama ini kosong dinilai sebagai peluang.
Ada pula yang menilai program ini sama saja bohong bila tak menambahkan profit bagi pedagang lama.
Sumarno, pedagang bunga di Pasar Kembang menuturkan, kondisi lantai dua pasar sudah lama tak terurus dan nyaris tak ada aktivitas.
“Sudah bertahun-tahun sepi. Kadang lampunya mati, orang jarang naik. Kalau ada usaha baru yang bikin orang mau datang, ya kami senang,” ujar Sumarno
Meski mendukung, ia tetap menyimpan keraguan. Menurutnya, keramaian belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan omzet pedagang lama.
“Yang kami butuhkan itu pembeli, bukan sekadar pengunjung. Kalau orang cuma naik buat ngopi, habis itu pulang, kami tetap tidak dapat apa-apa,” katanya.
Keraguan juga diungkapkan Sri Wahyuni, pedagang bumbu dapur di Pasar Sidodadi.
Ia menilai konsep usaha kreatif memang menarik, namun belum tentu menyentuh kebutuhan pedagang tradisional di lantai bawah.
“Anak-anak muda mungkin senang ke kafe atau tempat nongkrong, tapi apakah mereka mau belanja sayur atau sembako? Itu yang kami pertanyakan,” ucapnya.
Di sisi lain, ada pedagang yang melihat peluang jangka panjang, terutama jika Pemkot Solo mampu mengemas konsep yang saling terhubung.
Sulastri, pedagang batik di sekitar Pasar Klewer, berharap festival dan kegiatan kreatif bisa benar-benar mengalirkan pengunjung ke kios-kios lama.
Baca Juga: Timnas CP Indonesia Tancap Gas! Dua Sesi Latihan Demi Emas ASEAN Para Games di Thailand
“Kalau ada festival pagi, mestinya pembeli juga diarahkan masuk ke pasar. Jangan cuma di pelataran. Kalau alurnya jelas, kami yakin bisa ikut kecipratan,” tuturnya.
Namun, tidak semua pedagang bersikap optimistis. Kekhawatiran terbesar adalah berubahnya wajah pasar tradisional menjadi ruang komersial modern yang tidak ramah bagi pedagang kecil.
Slamet, pedagang kuliner tradisional di Pasar Ayu Balapan, secara tegas menyatakan penolakannya.
“Kami ini pedagang kecil, jualan serba tradisional. Kalau nanti di atas ada kafe modern, harga minuman mahal, tampilan mewah, kami pasti kalah,” katanya.
Ia khawatir keberadaan usaha modern justru mengalihkan konsumen yang selama ini menjadi pelanggan setia pedagang pasar.
“Orang ke pasar bukan lagi buat jajan tradisional, tapi buat ngopi. Itu yang kami takutkan,” imbuh Slamet
Pria yang sudah lebih dari 10 tahun mengais rezeki dipasar yang tepat berada di samping Stasiun Balapan Solo ini menambahkan, daripada mengubah konsep, lebih baik Pemkot lebih dulu membenahi persoalan mendasar pasar, yakni pembenahan fasilitas di Pasar Ayu.
Dikatanya, untuk meramaikan pasar, seharusnya dimulai dari penguatan pedagang lama, bukan mendatangkan pelaku usaha baru.
Ia khawatir kebijakan tersebut lebih menguntungkan investor dibanding pedagang pasar.
"Iso wae, seng duwe duit mlaku, seng ora duwe modal kukut (Yang punya modal usahanya berjalanya, yang tidak punya modal gulung tikar," ungkapnya. (atn)
Editor : Tri wahyu Cahyono