Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kisah Selamet Setia Budi Membawa Batik Lukis Laweyan Mendunia, Menghiasi Dinding Hunian di Roma hingga Hiroshima

Arief Budiman • Senin, 26 Januari 2026 | 18:06 WIB
Batik-batik lukis karya Selamet Setia Budi diminati kolektor luar negeri. (Arief Budiman/Radar Solo) 
Batik-batik lukis karya Selamet Setia Budi diminati kolektor luar negeri. (Arief Budiman/Radar Solo) 

RADARSOLO.COM - Di balik labirin gang sempit kuno kawasan Laweyan, Solo—tempat di mana dinding-dinding tinggi menyimpan rahasia kejayaan saudagar masa lalu—terdengar gesekan halus kuas di atas kain yang kencang.

Di sebuah ruang kerja sederhana yang sarat akan aroma malam (lilin) dan pewarna, Selamet Setia Budi, 64, sedang bercakap-cakap dengan "dunia"-nya.

Tangannya yang sudah nampak keriput namun tetap kokoh, terlihat teliti menyapukan warna pada sosok Pendowo Limo. Di atas kain yang terbentang, cerita wayang kulit itu seolah menemukan nyawanya kembali. Bukan melalui layar kain putih dan lampu blencong, melainkan lewat goresan batik lukis yang telah ia tekuni selama lebih dari dua dekade.

Bagi Selamet, batik lukis adalah ruang kebebasan. Meski prinsip dasarnya serupa dengan batik pada umumnya, ia menggunakan teknik yang lebih personal.

"Prosesnya sama seperti batik biasa, tapi kita menggunakan media kotak dan pelangkan (bingkai kayu) untuk menciptakan efek yang unik," jelasnya sembari tersenyum, menunjukkan kain yang terbentang rapi di hadapannya.

Kehebatan Selamet bukan rahasia lagi di kalangan kolektor. Kepiawaiannya mengolah malam dan warna tak hanya memikat pasar lokal seperti Bali dan Jogja, tetapi telah terbang jauh melintasi samudera. Karyanya telah menghiasi dinding-dinding hunian di Roma hingga Jepang.

Bahkan, memori 2005 masih terekam jelas di benaknya. Kala itu, Selamet menginjakkan kaki di Hiroshima, Jepang, bukan sebagai turis, melainkan sebagai guru. Ia membimbing penduduk lokal di sana untuk mengenal filosofi di balik tiap goresan canting dan kuas.

Di bawah bendera kreativitasnya, Selamet tidak membatasi diri. Selain tokoh wayang yang sarat filosofi, ia juga piawai melukis kaligrafi yang religius, pemandangan alam yang asri, hingga desain modern sesuai keinginan pelanggan.

Soal harga, Selamet sangat membumi. Ia membanderol karyanya mulai dari Rp 50 ribu untuk pernak-pernik kecil, hingga Rp 3 juta untuk maha karya dengan tingkat kerumitan tinggi.

"Saya juga mengelola website sendiri. Pelanggan bisa memesan secara online dari mana saja," katanya dengan nada bangga, menunjukkan bahwa usia bukan halangan untuk melek teknologi.

Meski usianya telah menyentuh angka 64 tahun, semangat Selamet tidak menunjukkan tanda-tanda meredup. Baginya, setiap helai kain adalah doa dan harapan agar tradisi ini tidak mati ditelan zaman. Ia adalah salah satu penjaga api sejarah di tengah modernisasi industri tekstil.

"Saya masih membatik sampai sekarang karena saya ingin terus menciptakan keindahan dan membagikannya dengan orang lain," tuturnya.

Di ujung lorong Laweyan yang tenang, Selamet terus berkarya. Ia berharap setiap goresan warna Pendowo Limo yang ia buat bukan sekadar pajangan, melainkan bagian dari warisan budaya Indonesia yang akan terus dikenang oleh generasi mendatang. (alf/bun)

 

 

Editor : Kabun Triyatno
#filosofi #jepang #lukis #laweyan #teknologi #online #wayang #lilin #batik