Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Pemulangan Artefak Butuh Kajian dan Proses Panjang

Silvester Kurniawan • Rabu, 28 Januari 2026 | 23:51 WIB
Dosen Sejarah UIN Raden Mas Said Surakarta Muhammad Aprianto
Dosen Sejarah UIN Raden Mas Said Surakarta Muhammad Aprianto

RADARSOLO.COM – Upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Solo memulangkan artefak dan dokumen sejarah dari Belanda, mendapat dukungan penuh dari dosen sejarah Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta Muhammad Aprianto.

Meski baru tahap awal dan lobi-lobi dengan Kedubes Belanda, upaya tersebut perlu direalisasikan demi kepentingan ilmu pendidikan di masa mendatang.

Apri (sapaan akrab Muhammad Aprianto) menjelaskan, sempat dilibatkan dalam pertemuan antara pemkot dengan Kedubes Belanda di Solo, Selasa (27/1) kemarin. Mengingat kemampuannya yang fasih berbahasa Belanda.

“Saya yakin itu masih butuh proses panjang. Saya yakin Kedubes Belanda akan menjembatani. Paling tidak ini obrolan yang baik, sebagai awalan untuk direalisasikan. Tapi masih perlu kajian mendalam terkait apa saja yang mungkin untuk dilakukan,” jelas Apri.

Meski masih tahap awal, Apri mendorong agar obrolan itu ditindaklanjuti dengan serius. Sehingga kemungkinan pemulangan atau teknis lainnya bisa direalisasikan. Ini penting, karena akan memberikan dampak besar bagi dunia pendidikan, kebudayaan, hingga pariwisata di Kota Bengawan.

“Tantangannya, apakah sudah siap dengan segala hal yang berkaitan dengan perawatan dan pengelolaan artefak atau dokumen sejarah seperti itu? Tentu ini jadi tantangan besar. Makanya, ini perlu dibahas lagi secara detail. Termasuk daftar apa saja benda atau dokumen sejarah yang akan dipulangkan,” imbuh Apri.

Di luar itu, pertemuan Selasa kemarin dipandang sebagai langkah bijak. Minimal membuka kans bagi para peneliti atau pihak terkait, untuk bisa mengakses koleksi benda atau barang bersejarah.

Sebab dalam pertemuan itu, tidak hanya membahas soal wacana pengembalian artefak. Tapi juga memberi kesempatan bagi Kota Solo untuk mengirimkan sumber daya manusia (SDM) ke Negeri Kincir Angin.

“Ini peluang yang baik untuk Pemkot, karena kekayaan Solo memang berakar dari sejarah dan budaya. Ini perlu perencanaan jangka panjang. Soal rencana mengirimkan SDM untuk belajar di Belanda, ini juga sangat baik. Tetapi secara teknis, jenjang pendidikan, dan konsep kegiatannya seperti apa, masih belum mengerucut,” bebernya.

Sementara itu, Pemkot Solo juga menjajaki program beasiswa dengan sejumlah universitas di Belanda. Di antaranya Leiden University dan Utrecht University, yang memiliki disiplin ilmu linier dengan Indonesia. Harapannya, kian banyak warga Solo yang bisa mengakses program scholarship di Belanda.

“Langkah awalnya, bisa dengan pertukaran pelajar untuk mengenal pendidikan dan budaya di sana. Mungkin nanti sekira delapan minggu. Nanti dari sana juga mengirimkan pelajar ke sini untuk belajar,” beber Wali Kota Solo Respati Ardi. (ves/fer)

Editor : Niko auglandy
#artefak #pemkot solo #UIN #sejarah