RADARSOLO.COM - Kerumunan mendadak terbentuk di salah satu sudut Car Free Day (CFD) Solo, Minggu pagi (8/2/). Di tengah lalu lalang warga yang berolahraga, seorang pria tampak lihai memainkan kartu remi di hadapan penonton.
Tepuk tangan dan sorak kagum berkali-kali terdengar setiap kali tangannya berhasil memainkan trik sulap. Ia tak lain Heri Kustanto, 54, pesulap jalanan asal Gilingan, Banjarsari, Solo. Aksinya pagi itu banjir respons pengunjung.
Dengan gerakan tangan cepat, Heri mengubah susunan kartu acak menjadi seragam hanya dalam hitungan detik. Anak-anak hingga orang dewasa tampak terpukau melihat aksinga. Sebagian mendekat memastikan tak ada celah dalam trik yang ia mainkan.
Bagi Heri, momen ketika penonton terdiam lalu bersorak adalah kepuasan tersendiri. Ia mengaku telah menekuni dunia sulap selama enam tahun terakhir. Seluruh kemampuannya dipelajari secara otodidak melalui media sosial.
Berbekal rasa penasaran, ia mempelajari berbagai trik, lalu mempraktikkannya berulang kali hingga mahir. Tak berhenti di situ, ia juga mengembangkan inovasi sendiri dari trik yang sudah ada.
“Saya menemukan bakat pribadi di sulap ini kemudian saya gali sepenuh hati. Kedua, saya ingin menghibur orang lain. Alasan ketiga, karena memang sebagai mata pencaharian saya,” ujarnya.
Perjalanannya berawal dari alat sederhana. Hanya berbekalkan sendok dan empat buah ring besi yang dibuatnya sendiri untuk latihan. Kini, dari dua alat, koleksinya berkembang menjadi ratusan perlengkapan sulap. Sebagian dibeli secara daring dari Jakarta dan Surabaya, sementara yang memungkinkan ia rakit sendiri dari barang bekas.
Selain di CFD Solo, Heri kerap tampil di CFD Pandean, Colomadu, Karanganyar. Ia juga beraksi di Jalan Gatot Subroto Solo setiap Jumat dan Sabtu malam.
Termasuk sering mengisi acara hotel, kegiatan pemerintah, sekolah, hingga pesta ulang tahun. Meski begitu, penghasilan dari sulap jalanan tidak selalu pasti.
“Kalau hujan, saya bisa nggak dapat penghasilan, paling hanya cukup untuk bayar sewa tempat,” katanya.
Namun baginya, materi bukan satu-satunya tujuan. "Yang penting saya bisa membuat orang lain senang," ungkapnya tersenyum.
Dalam perjalanannya, kegagalan pernah terjadi. Ia mencontohkan saat memainkan trik koin yang seharusnya hilang di tangan, namun justru terjatuh ke tanah.
Alih-alih panik, ia menjadikan momen itu sebagai pengantar ke trik berikutnya yang justru membuat penonton semakin kagum. Baginya, satu alat harus dikuasai dengan banyak variasi trik sebagai antisipasi kesalahan.
Ia juga menyadari tantangan pesulap masa kini semakin besar karena banyak penonton telah mengetahui rahasia trik dari media sosial. Karena itu, ia terus belajar menciptakan variasi baru dan mengubah cara pandang penonton terhadap sulap.
Sebelum menekuni sulap, Heri pernah bekerja sebagai karyawan pabrik selama sembilan tahun di luar daerah. Namun ketika menemukan bakatnya, ia memilih meninggalkan pekerjaan lamanya untuk fokus pada dunia sulap yang ia sebut sebagai panggilan hati.
"Walaupun sulap hampir punah, saya yakin masih ada penikmatnya. Melalui pekerjaan ini saya enjoy dan senang bisa menghibur orang lain," pungkasnya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto