Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Intip Iklan Jadul di Festbruari 2026, Monumen Pers Solo Pamerkan Evolusi Pariwara Sejak Era Kolonial

Silvester Kurniawan • Selasa, 10 Februari 2026 | 17:26 WIB

Pameran Festbruari 2026 di Monumen Pers Nasional Solo. (M Ihsan/Radar Solo)
Pameran Festbruari 2026 di Monumen Pers Nasional Solo. (M Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Wajah media massa Indonesia dari masa ke masa tidak hanya terekam melalui berita, tetapi juga lewat iklan yang menyertainya. Instalasi berbagai produk pariwara dari media mainstream sukses mencuri perhatian pengunjung dalam perhelatan Festbruari 2026 di Monumen Pers Nasional Solo, Selasa (10/2).

Kepala Monumen Pers Nasional Widodo menjelaskan bahwa Festbruari merupakan agenda tahunan untuk memperingati HUT ke-48 Monumen Pers Nasional sekaligus memeriahkan Hari Pers Nasional (HPN). Dalam edisi kali ini, pameran bertajuk "Warta Pariwara" dihadirkan mulai 10 hingga 28 Februari 2026.

Baca Juga: Napak Tilas Sejarah Pers di Solo, Monumen Pers Nasional Jadi Magnet Pengunjung Jelang Puncak HPN

"Pameran ini mengangkat iklan terbitan media cetak dari era kolonial sampai masa kini. Kami menampilkan 101 iklan yang pernah terbit di surat kabar, tabloid, hingga majalah dalam rentang waktu 1937 sampai 2015," jelas Widodo.

Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani yang hadir meninjau pameran mengaku mendapatkan perspektif baru dalam melihat peran pers. Menurutnya, iklan merupakan dokumen sejarah sosial dan budaya yang merekam nilai-nilai kehidupan masyarakat pada zamannya.

Baca Juga: Diskon 30% Tiket Kereta Mudik Lebaran Mulai Bisa Dipesan Selasa Sore Ini, Jangan Sampai Kehabisan!

"Iklan bukan sekadar promosi produk. Ia merekam cara berpikir, bahasa, dan nilai-nilai yang hidup di masyarakat saat itu. Sejarah pers perlu terus disampaikan karena arsip pers bisa menjadi ruang belajar yang hidup bagi generasi sekarang," tutur Astrid.

Keunikan iklan-iklan lawas tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung, terutama dari kalangan anak muda. Sekar Pangastuti, salah seorang pengunjung, mengaku takjub melihat perbedaan visual dan gaya bahasa iklan "jadul" dibandingkan iklan modern saat ini.

Baca Juga: Pakar Antropologi: Penghentian Biaya Visum Korban Kekerasan Seksual Hambat Akses Keadilan

"Sangat menarik karena saya baru tahu bentuk iklan di masa lalu seperti apa. Pameran ini memberikan gambaran bagaimana tren masa lalu dikemas secara visual," kata Sekar.

Pameran "Warta Pariwara" ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi masyarakat untuk memahami bahwa pers memiliki andil besar dalam membentuk identitas budaya bangsa melalui pesan-pesan komersial maupun edukatif di lembar pariwara. (ves/bun)

Editor : Kabun Triyatno
#media mainstream #monumen pers nasional #wakil wali kota solo astrid widayani #Tabloid #surat kabar