Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Belajar dari Tragedi Mongkrang, Ini Tiga Benda yang Wajib Bawa di Gunung Agar Nyawa Tidak Terancam

Arief Budiman • Kamis, 12 Februari 2026 | 18:16 WIB
Foto almarhum Yazid Ahmad Firdaus, pendaki yang meninggal di Bukit Mongkrang Karanganyar. (Humas Pemprov Jateng)
Foto almarhum Yazid Ahmad Firdaus, pendaki yang meninggal di Bukit Mongkrang Karanganyar. (Humas Pemprov Jateng)

RADARSOLO.COM – Belajar dari kasus hilangnya Yazid Ahmad Firdaus, pendaki asal Colomadu, Karanganyar yang memiliki hobi trail run (lari alam), di Bukit Mongkrang, maka bagi pehobi olahraga ekstrem ini harus persiapan matang dan memahami medan.

Anggota Wanadri Sugiarto yang menemukan jasad Yazid memberikan peringatan keras. Berlari di gunung berbeda dengan berlari di sirkuit. Navigasi darat adalah harga mati.

“Kelemahan anak sekarang adalah terlalu bergantung pada ponsel. Kalau baterai habis atau HP jatuh, mereka buta arah. Setidaknya bawa peta hard copy, pisau lipat, dan korek api,” tuturnya.

Korek api, menurutnya, adalah alat survival paling vital untuk membuat perapian agar terhindar dari hipotermia. Ia juga menyarankan agar para pelari meninggalkan tanda-tanda alam seperti patahan ranting jika merasa tersesat, agar pencari mudah melacak jejak.

Bagi Sugiarto, keberhasilan di Mongkrang menambah panjang daftar pengalamannya sejak menemukan siswa hilang bernama Purwanto di Lawu pada 1996 silam. Meski rambutnya mulai memutih, ia memastikan masih sanggup melahap trek gunung minimal sebulan sekali.

“Wanadri itu artinya penempuh rimba. Kami dididik satu bulan penuh di hutan untuk tidak takut nyasar karena kami tahu navigasi, dan tidak takut lapar karena kami tahu apa yang bisa dimakan di hutan tropis,” tuturnya. (rif/bun)

Editor : Kabun Triyatno
#hilang #olahraga ekstrem #Yazid Ahmad Firdaus #survival #pendaki #ponsel