RADARSOLO.COM – Di tengah gempuran modernitas, seni Wayang Beber yang langka masih menemukan ruang napasnya di sudut Baluwarti, Solo. Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani bersama Wakil Ketua DPRD Kota Solo Muhammad Bilal melakukan kunjungan khusus ke kediaman sang maestro, Raden Ngabehi Atmo Supomo, Sabtu (28/2). Kunjungan ini mempertegas komitmen pemerintah dalam menjaga detak jantung kebudayaan yang tumbuh dari akar kampung wisata.
Dalam suasana hangat di Ndalem Atmo Supomo, Astrid berbincang langsung dengan Ki Atmo Supomo, seniman yang telah eksis sejak era 1960-an. Meski di usia senja dengan keterbatasan fisik yang mulai menurun, semangat sang maestro yang telah populer sejak masa kepemimpinan Pakubuwono XII ini tetap membara dalam merawat galeri seninya.
Baca Juga: Mengenal Tokoh-Tokoh Bernama Suharto: Dari Pemimpin Bangsa hingga Pahlawan Nasional
“Kami melihat langsung pelestarian Wayang Beber yang sudah terjaga sejak tahun 60-an. Semangat Ki Atmo Supomo menjadikan huniannya bukan sekadar galeri, melainkan rumah kebudayaan yang hidup, sangat luar biasa,” ujar Astrid.
Ndalem Atmo Supomo kini berfungsi sebagai kawah candradimuka bagi anak muda yang ingin mendalami tradisi Jawa, mulai dari Karawitan hingga penulisan Aksara Jawa. Astrid mengapresiasi bagaimana tempat ini menjadi titik relevan untuk mengestafetkan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus di Solo.
Namun, Astrid tidak menampik bahwa Wayang Beber saat ini menghadapi tantangan popularitas jika dibandingkan dengan Wayang Kulit atau Wayang Orang. Sebab itu, kolaborasi antara pemerintah, seniman, dan budayawan menjadi harga mati agar kesenian ini tidak punah ditelan zaman.
Sebagai langkah konkret, Pemerintah Kota Solo berencana mengintegrasikan kesenian Wayang Beber ke dalam agenda resmi kewilayahan. Sebuah panggung budaya yang menempatkan Wayang Beber sebagai tokoh utama direncanakan bakal dihelat di Kecamatan Pasar Kliwon sesaat setelah Lebaran 2026.
Pengelola Ndalem Atmo, Doni Susanto menyebutkan bahwa regenerasi pelukis maupun dalang Wayang Beber memang membutuhkan ketelitian dan kejelian luar biasa. Saat ini, minat pelestarian banyak datang dari kalangan akademisi.
“Regenerasi saat ini banyak didorong oleh mahasiswa ISI Solo yang datang untuk riset maupun menyelesaikan tugas akhir. Kehadiran pemerintah tentu menjadi angin segar bagi keberlangsungan seni lukis gulung ini,” tutur Doni.
Dengan dukungan kebijakan dan ruang apresiasi yang lebih luas, Wayang Beber diharapkan kembali menjadi ikon kebanggaan yang memperkaya khazanah budaya Kota Solo di mata dunia. (ves)
Editor : Kabun Triyatno