Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Gunakan Pakem Kuno dan Kertas Samson, Kalender Jawa Buatan Mbah Mardi Tembus Pasar Nusantara

Alfida Nurcholisah • Minggu, 1 Maret 2026 | 20:48 WIB

Mardiwiyoto atau yang akrab disapa Mbah Mardi (kiri) tetap setia melestarikan kalender Jawa.
Mardiwiyoto atau yang akrab disapa Mbah Mardi (kiri) tetap setia melestarikan kalender Jawa.

RADARSOLO.COM-Di sebuah rumah di pinggiran Kabupaten Klaten, tepatnya di Desa Tegalmulyo, Kecamatan Karangdowo, Mardiwiyoto atau yang akrab disapa Mbah Mardi masih setia merawat warisan leluhur.

Pria kelahiran 1940 ini mendedikasikan masa tuanya untuk menyusun dan melestarikan kalender Jawa berbekal buku-buku kuno bertuliskan aksara Jawa.

Bagi Mbah Mardi, kalender bukan sekadar petunjuk penanggalan, melainkan medium yang menyimpan pengetahuan, filosofi, dan pedoman hidup masyarakat Jawa.

Ia meneruskan tradisi ini berdasarkan amanat orang tuanya agar identitas budaya Jawa tidak luntur ditelan zaman.

Meski secara administrasi kependudukan tercatat beragama Hindu, ia menegaskan dirinya sebagai penganut Kejawen yang meyakini budaya Jawa memiliki nilai toleransi dan penerimaan yang tinggi.

Berpatokan pada Pakem Kuno

Kemampuan menyusun kalender Jawa ini ia pelajari secara mendalam sejak mendiang ayahnya wafat pada tahun 1992.

Sebuah buku tua bersampul pudar dengan tulisan tangan aksara Jawa menjadi pedoman utama atau pakem yang terus ia gunakan hingga kini.

Dari literatur kuno tersebut, Mbah Mardi memahami sistem penanggalan yang kompleks. Mulai dari siklus tujuh hari, pasaran lima, satu windu, hingga perhitungan wuku.

Mbah Mardi menjelaskan bahwa sistem kalender Jawa memiliki karakteristik unik.

Seperti pergantian hari yang dimulai pada pukul 18.00 WIB dan sistem perhitungan bulan yang diawali dari bulan Sura.

Penanggalan ini masih sangat diandalkan oleh masyarakat untuk menentukan hari baik atau dino apik berdasarkan ilmu titen atau pengamatan yang diwariskan turun-temurun.

Baca Juga: Terjegal Aturan Lahan Sawah Dilindungi, Izin 70 Proyek Perumahan di Klaten Mandek Total

Rumus Selamatan dan Simbol Peringatan

Kalender buatan Mbah Mardi berfungsi sebagai panduan aktivitas vital. Seperti menggelar pernikahan, mendirikan rumah, hingga membeli hewan ternak dengan mempertimbangkan hitungan hari, pasaran, dan ringkel.

Ia juga menyertakan rumus perhitungan khusus untuk menentukan hari selamatan orang meninggal, seperti peringatan tiga hari, tujuh hari, 40 hari, hingga 1.000 hari.

Sebagai panduan visual yang memudahkan pembaca, Mbah Mardi membubuhkan simbol-simbol khusus pada kalendernya.

Seperti kotak, lingkaran, hingga gambar tengkorak berwarna merah dan hitam.

Tanda-tanda tersebut merupakan peringatan bagi masyarakat mengenai hari-hari tertentu yang sebaiknya dihindari saat hendak mengadakan acara penting atau hajatan.

Menjangkau Nusantara Tanpa Orientasi Laba

Proses penyusunan kalender dilakukan pada malam hari demi menjaga ketelitian hitungan.

Setelah naskah selesai dan dikoreksi, kalender tersebut dicetak menggunakan kertas samson kraft yang menjadi ciri khasnya sejak awal produksi pada 1992.

Awalnya, kalender ini hanya dibuat untuk kalangan internal Padepokan Segara Gunung di lereng Gunung Lawu.

Namun saat ini distribusinya telah meluas ke berbagai pulau di Indonesia, mulai dari Sumatera, Kalimantan, hingga Papua.

Setiap tahunnya, Mbah Mardi memproduksi sekitar 2.000 eksemplar yang dipasarkan secara daring oleh sang anak dengan harga Rp35 ribu.

Ia menegaskan bahwa pembuatan kalender ini sama sekali bukan untuk mencari keuntungan materi, melainkan wujud tanggung jawab moral.

Baca Juga: Tebing Ambrol di 6 Titik, BPBD Sukoharjo Desak Pembangunan Talud Permanen di Kecamatan Bulu

Di usianya yang senja, ia hanya memiliki satu harapan agar generasi muda terus menjaga kebijaksanaan peninggalan nenek moyang dan tidak melupakan identitas budayanya sendiri. (alf)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#pakem kuno #mbah mardi #aksara jawa #kalender jawa #windu #buku kuno #mardiwiyoto #Pasaran #penanggalan #WUKU #budaya #tradisi