Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Waspada Modus Tiket Bus Operan: Kisah Pilu Pemudik Lintas Pulau yang Nyaris Gagal Lebaran di Riau

Antonius Christian • Minggu, 15 Maret 2026 | 13:33 WIB

Kadiv Pengawasan dan Pengendalian (Wasdal) Terminal Tirtonadi Sunardi. (A Christian/Radar Solo)
Kadiv Pengawasan dan Pengendalian (Wasdal) Terminal Tirtonadi Sunardi. (A Christian/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Di tengah keriuhan Terminal Tipe A Tirtonadi yang mulai dipadati pemudik, seorang perempuan tampak terduduk lesu di sudut ruang tunggu, Minggu (15/3). Tatapannya kosong, sesekali ia mengusap sudut matanya yang basah.

Jauh-jauh datang dari Nusa Tenggara Barat (NTB), ia membawa harapan besar untuk merayakan Lebaran di pelukan suaminya di Riau. Namun, yang ia dapati di Solo justru kenyataan pahit: ia terlantar akibat tipu daya tiket bus.

Kerinduan yang seharusnya berujung bahagia, nyaris berubah menjadi mimpi buruk di tengah perjalanan ribuan kilometer.

Kasus memilukan ini terendus oleh petugas setelah melihat gerak-gerik korban yang kebingungan melanjutkan perjalanan. Kadiv Pengawasan dan Pengendalian (Wasdal) Terminal Tirtonadi Sunardi mengungkapkan bahwa korban diduga kuat menjadi korban penipuan tiket lintas pulau.

Tragedi ini bermula saat korban merogoh kocek sebesar Rp 1,55 juta di NTB untuk tiket bus langsung menuju Sumatera. Namun, ia justru dinaikkan bus PO Titian Mas yang trayek resminya hanya melayani rute NTB hingga Surabaya.

“Ibu tadi dijanjikan sampai Sumatera, tapi hanya dinaikkan bus trayek Surabaya. Setibanya di Surabaya, ia dioper lagi hingga akhirnya diturunkan di Solo. Di Tirtonadi, ia baru tersadar bahwa tiket lanjutannya tidak pernah ada,” jelas Sunardi.

Petugas terminal segera melakukan klarifikasi dan pendampingan. Sunardi menilai, faktor ketidaktahuan dan keterbatasan literasi membuat korban mudah tergiur oleh janji oknum tak bertanggung jawab. Indikasi penipuan pun menguat setelah petugas memeriksa sisa dokumen perjalanan yang dibawa korban.

Enggan membiarkan pemudik tersebut menderita lebih lama, pihak pengelola Terminal Tirtonadi mengambil langkah kemanusiaan. Petugas berinisiatif memfasilitasi pembelian tiket baru agar sang ibu tetap bisa mengejar rindu hingga ke Riau.

“Kami carikan solusi dengan membelikan tiket baru melalui PO SAN. Pukul 15.00 (kemarin), beliau sudah diberangkatkan kembali menuju tujuan akhir di Riau,” tambah Sunardi.

Kejadian ini menjadi noda di tengah kelancaran arus mudik di Tirtonadi yang mulai meningkat. Hingga H-7 Lebaran (13/3), tercatat kenaikan penumpang sekitar tiga persen, didominasi oleh kedatangan puluhan bus program mudik gratis dari Jabodetabek.

Sunardi mengingatkan bahwa modus penipuan tiket lintas pulau seperti ini tergolong jarang namun sangat berbahaya. Ia menghimbau masyarakat untuk lebih skeptis terhadap tawaran tiket murah atau paket perjalanan "langsung" yang tidak memiliki bukti resmi dan jelas.

“Jangan mudah percaya dengan orang yang tidak dikenal, terutama jika tidak ada bukti tiket yang sah. Pastikan kejelasan trayek bus sebelum naik,” tegasnya.

Puncak arus mudik reguler di Solo diperkirakan baru akan pecah pada H-3 atau sekitar tanggal 18-19 Maret mendatang. Bagi pengelola terminal, kasus pemudik NTB ini menjadi pengingat bahwa keamanan mudik bukan sekadar soal kelancaran lalu lintas, tapi juga menjaga para pemudik dari tangan-tangan jahat yang tega memanfaatkan kerinduan seseorang untuk mencari keuntungan pribadi. (atn/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#ntb #korban penipuan #dokumen #Nusa Tengara Barat #riau #Terminal Tipe A Tirtonadi #ruang tunggu