RADARSOLO.COM - Tradisi Syawalan di Pura Mangkunegaran kembali digelar semarak, Sabtu (28/3).
Ribuan warga dari berbagai penjuru Kota Solo dan sekitarnya memadati kawasan Pendapa Ageng untuk mengikuti halalbihalal bersama K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X.
Sejak pagi hari, arus warga sudah terlihat mengalir menuju kompleks Pura Mangkunegaran.
Mereka datang secara bergelombang, kemudian mengantre rapi untuk memasuki pendapa.
Satu per satu warga dipersilakan maju untuk bersalaman langsung dengan Mangkoenagoro X dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan.
Halalbihalal yang berlangsung pukul 09.30 hingga 11.00 WIB ini merupakan bagian dari perayaan Riyaya Kupat atau Lebaran Ketupat di bulan Syawal.
Baca Juga: Gema Takbir dan Cahaya Kirab Obor Mangkunegaran Warnai Malam Idulfitri di Solo
Selain dihadiri keluarga dalem, abdi dalem, dan kawula Mangkunegaran, kegiatan ini juga diikuti jajaran Forkopimda Kota Solo serta masyarakat umum yang diberi akses terbuka.
Pengageng Kawedanan Panti Budaya Puro Mangkunegaran, GRAj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura, menyampaikan bahwa Syawalan menjadi momentum penting untuk mempererat jalinan antara Mangkunegaran dengan masyarakat.
“Di momen Syawal ini kami menyelenggarakan Syawalan atau halalbihalal. Tidak hanya bersama abdi dalem dan kerabat, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk bersilaturahmi langsung dengan Kanjeng Gusti,” ujar Gusti Sura.
Ia menegaskan, keterbukaan Mangkunegaran terhadap masyarakat telah menjadi bagian dari tradisi sejak masa Mangkoenagoro I melalui nilai Hanebu Sauyun, yakni semangat persatuan dalam kebersamaan.
“Harapannya, hubungan Mangkunegaran dengan masyarakat Solo semakin erat. Ini juga menjadi momen berkumpul kembali, seperti reuni kecil setelah Lebaran, baik bagi abdi dalem, kerabat, maupun masyarakat,” imbuhnya.
Dalam kegiatan tersebut, Mangkunegaran juga membagikan sekitar 4.000 paket ketupat opor kepada masyarakat.
Selain dibagikan langsung di lokasi, sebagian paket juga disalurkan ke sembilan kelurahan di wilayah Banjarsari.
Menurut Gusti Sura, jumlah tersebut memiliki makna simbolis, yakni menandai empat tahun masa jumeneng Mangkoenagoro X sekaligus mencerminkan komitmen untuk terus dekat dengan rakyat.
“Yang berbeda tahun ini adalah pembagian 4.000 ketupat. Ini simbol empat tahun kepemimpinan Kanjeng Gusti, sekaligus bentuk kepedulian kepada masyarakat,” jelasnya.
Baca Juga: Dekatkan Arsip Sejarah ke Masyarakat, Pura Mangkunegaran Resmikan Wajah Baru Perpustakaan
Dengan tingginya antusiasme masyarakat, Syawalan Mangkunegaran kembali menegaskan posisinya sebagai tradisi budaya yang hidup dan terus relevan.
Pura Mangkunegaran pun memastikan kegiatan ini akan terus dilaksanakan setiap tahun sebagai ruang silaturahmi yang inklusif bagi semua kalangan.
“Ke depan, kegiatan seperti ini akan terus kami selenggarakan. Ini sudah menjadi agenda tahunan dan bagian dari komitmen kami untuk selalu dekat dengan masyarakat,” pungkas Gusti Sura.
Pantauan di lokasi, antusiasme warga sangat tinggi. Pendapa Ageng dipenuhi masyarakat yang rela mengantre cukup lama demi bisa bertemu dan bersalaman langsung dengan Mangkoenagoro X.
Meski padat, suasana tetap tertib dengan pengaturan dari petugas.
Salah satu warga Banjarsari, Sumarno, mengaku sengaja datang lebih pagi agar bisa ikut bersalaman.
Ia menilai tradisi ini menjadi momen langka yang tidak ditemukan di banyak tempat.
“Senang sekali bisa salaman langsung dengan Kanjeng Gusti. Ini bukan cuma tradisi, tapi juga kebanggaan bagi warga Solo. Rasanya dekat sekali dengan pemimpin,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Rina, warga asal Mojosongo, yang datang bersama keluarganya. Ia mengaku rutin mengikuti Syawalan di Mangkunegaran karena suasananya yang hangat dan terbuka.
“Setiap tahun saya usahakan datang. Suasananya beda, lebih kekeluargaan. Anak-anak juga senang bisa ikut melihat langsung budaya seperti ini,” katanya.
Bagi sebagian warga, pembagian ketupat juga menjadi daya tarik tersendiri. Selain sebagai simbol Lebaran Ketupat, makanan tersebut dimaknai sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur. “Ketupat ini kan simbol saling memaafkan. Jadi bukan sekadar makanan, tapi ada maknanya. Senang bisa ikut merasakan,” tambah Siti, warga Nusukan. (atn)