RADARSOLO.COM- Wacana revitalisasi bangunan bersejarah Keraton Kilen ing Prabasana di dalam kompleks Keraton Surakarta Hadiningrat mulai bergulir.
Bangunan peninggalan era Sinuhun Pakubuwana (PB) X yang berdiri sejak tahun 1927 ini dinilai memiliki kedalaman nilai sejarah, spiritual, dan simbolik, sehingga penataannya dianggap mendesak namun harus tetap mempertahankan marwah kesakralannya.
Saat ini, sejumlah pihak dikabarkan tengah bergerak secara mandiri untuk menghimpun data dan mendokumentasikan rekam jejak sejarah Keraton Kilen.
Pengumpulan literatur ini bertujuan agar cetak biru revitalisasi nantinya tidak sekadar memoles fisik bangunan, melainkan benar-benar berpijak pada fondasi historis yang utuh.
Pengamat Budaya dan Sejarah Bambang Ary Wibowo membeberkan bahwa eksistensi Keraton Kilen berkaitan erat dengan sebuah ramalan kuno saat momen perpindahan keraton dari Kartasura ke Desa Sala (Surakarta).
Kala itu, santer diyakini bahwa Keraton Surakarta hanya akan berusia sekitar 200 tahun.
"Sinuhun PB X kemudian mendapat petunjuk melalui medium mimpi untuk mendirikan semacam 'keraton kecil' di sisi gunung demi menjaga kelangsungan keraton. Visi spiritual itulah yang kemudian diwujudkan menjadi Keraton Kilen di kawasan dalam keraton, dekat Bandengan," ungkap Bambang, Minggu (29/3/2026).
Baca Juga: Stok Darah PMI Sukoharjo Menipis Usai Lebaran 2026, Ajak Masyarakat Untuk Berdonor
Untuk memahami urgensi revitalisasi yang berhati-hati, Bambang merinci beberapa fakta historis dan filosofis di balik berdirinya Keraton Kilen:
-
Fungsi Privat dan Filosofis: Keraton Kilen bukanlah sekadar bangunan tambahan, melainkan pernah menjadi kediaman privat Sinuhun PB X pada masa-masa tertentu. Posisinya yang menyendiri di sisi barat (kilen) kawasan inti mempertegas makna eksklusivitas dan filosofisnya.
-
Visi Masa Depan Raja (Waskita): Melalui mata batinnya (pengalaman spiritual), PB X diyakini telah memprediksi akan datangnya huru-hara atau peperangan besar di masa depan. Hal ini direspons dengan membangun bungker perlindungan di sekitar area Keraton Kilen. Sejarah pun mencatat, tak lama setelah wafatnya PB X, dunia memang dilanda krisis Perang Dunia.
Berbekal latar belakang sejarah yang begitu kuat dan sakral, Bambang mewanti-wanti agar proyek revitalisasi ini dieksekusi dengan tingkat kehati-hatian tinggi.
Ia secara tegas menolak wacana jika kawasan tersebut nantinya dibuka secara bebas untuk pariwisata umum.
Menurutnya, konsep ruang terbatas jauh lebih tepat untuk menjaga muruah Keraton Kilen, layaknya aturan pada kawasan Gedhong Jene (Gedung Kuning) yang hanya bisa diakses oleh kalangan kerabat atau pihak tertentu.
"Kalau semua dibuka bebas untuk umum, nilai sakralnya justru bisa luntur. Keraton Kilen sebaiknya tetap menjadi area privat yang hanya diakses pada momen-momen upacara khusus atau untuk menjamu tamu kehormatan tertentu saja," tegas Bambang.
Ia menutup penjelasannya dengan mengingatkan bahwa esensi revitalisasi idealnya harus mencakup penguatan narasi sejarah, bukan sekadar urusan membenahi semen dan bata.
"Revitalisasi itu bukan sekadar memperbaiki bangunan, tapi menghidupkan kembali makna. Keraton Kilen adalah representasi harapan, spiritualitas, dan visi agung seorang raja. Elemen fundamental itulah yang mutlak harus dijaga," pungkasnya. (atn)
Editor : Tri Wahyu Cahyono